//
you're reading...
AIK VI

Rujuk Dalam Islam

A. Pengertian Rujuk
Rujuk adalah mengembalikan istri yang telah ditalak pada pernikahan yang asal sebelum diceraikan. Rujuk menurut bahasa artinya kembali (mengembalikan). Adapun yang dimaksud rujuk disini adalah mengembalikan status hukum perkawinan secara penuh setelah terjadi talak raj’i yang dilakukan oleh mantan suami terhadap mantan istrinya dalam masa iddahnya dengan ucapan tertentu.
menurut bahasa Arab, kata ruju’ berasal dari kata raja’ a-yarji’ u-rujk’an yang berarti kembali, dan mengembalikan. Sedangkan secara terminology, ruju’ artinya kembalinya seorang suami kepada istrinya yang di talak raj’I, tanpa melalui perkawinan dalam masa ‘iddah. Ada pula para ulama mazhab berpendapat dalam istilah kata ruju’ itu adalah menarik kembali wanita yang di talak dan mempertahankan (ikatan) perkawinannya. Hukumnya, menurut kesepakatan para ulama mazhab, adalah boleh. Menurut para ulama mazhab ruju’ juga tidak membutuhkan wali, mas kawin, dan juga tidak kesediaan istri yang ditalak.
Firman Allah SWT Artinya : “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Baqarah :228)
Dapat di rumuskan bahwa ruju’ ialah mengembalikan setatus hokum perkawinan secara penuh setelah terjadinya talak raj’I yang dilakukan oleh bekas suami terhadap bekas istrinya dalam masa idddah, dengan ucapan tertentu.
Dengan terjadinya talak raj’I. maka kekuasaan bekas suami terhadap istri menjadi berkurang, namun masih ada pertalian hak dan kewajiban antara keduanya selama istri dalam masa iddahnya, yaitu kewajiban menyediakan tempat tinggal serta jaminan nafkah, dan sebagai imbangannya bekas suami memiliki hak prioritas untuk meruju’ bekas istrinya itu dalam arti mengembalikannya kepada kedudukannya sebagai istri secara penuh, dan pernyataan ruju’ itu menjadi halal bekas suami mencampuri bekas istri yang dimaksud, sebab dengan demikain setatus perkawinan mereka kembali sebagai sedia kala.
Perceraian ada tiga cara, yaitu :
1. talaq bain qubra (talaq tiga). Laki-laki tidak boleh rujuk lagi dan tidak sah menikah lagi dengan bekas istrinya itu, keculi apbila si istri sudah menukah dengan orang lain, sudah campur, sudah diceraikan, sudah habis pula masa iddah, barulah suami pertama boleh menikahinya lagi.
2. Talaq bain sughra (talaq tebus) dalam hal ini sumai tidak sah rujuk lagi, tetapi bileh menikah lagi, baik dalam pada masa iddah maupun sesuadah habis iddah.
3. Talaq satu atau talaq dua, dinamakan talaq raj’i. artinya si suami boleh rujuk kembali kepada istrinya selama msih dalam masa iddah.
B. Hukum Rujuk
a. Wajib khusus bagi laki-laki yang mempunyai istri lebih dari satu jika salah seorang ditalak sebelum gilirannya disempurnakannya.
b. Haram apabila rujuk itu, istri akan lebih menderita.
c. Makruh kalau diteruskan bercerai akan lebih baik bagi suami istri
d. Jaiz, hukum asal Rujuk.
e. Sunah jika rujuk akan membuat lebih baik dan manfaat bagi suami istri

1. hukum ruju’ terhadap talak raj’I
kaum muslimin telah sepakat bahwa suami mempunyai hak meruju; istrinya selama istrinya itu dalam masa iddah, dan tidak atau tanpa pertimbangan seorang istri ataupun persetujuan seorang istri. Sesuai dengan pengertian surat Al-Baqarah ayat 228 yang berbunyi ”Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu.”
2. hukum ruju’ terhadap talak ba’in
talak ba’in kadang-kadang terjadi dengan bilangan talak kurang dari tiga, dan ini terjadi pada istri yang belum digauli tanpa diperselisihkan lagi, dan pada istri
yang menerima khulu’ dengan terdapat perbedaan pendapat didalamnya. Hukum ruju’ setelah talak tersebut sama dengan nikah baru.
Mazhab empat sepakat bahwa hukum wanita seperti itu sama dengan wanita lain (bukan istri) yang untuk mengawinkannya kembali disyaratkan adanya akad. Hanya saja dalam hal ini selesainya ‘iddah tidak dianggap sebagai syarat.
a. talak ba’in karena talak tiga kali.
Mengenai istri yang ditalak tiga kali, para ulama mengatakan bahwa ia tidak halal lagi bagi suaminya, kecuali si istri menikah dengan orang lain, dengan syarat si istri sudah di tiduri oleh suami tersebut. Dan pasangan suami istri tersebut bercerai. Kemudian sang suami pertama merujuknya kembali dengan acara akad nikah baru.
Sa’id Al-Musyyab berbeda sendiri pendapatnya dengan mengatakan bahwa istri yang ditalak tiga kali boleh kembali kepada suaminya yang pertama dengan akad nikah yang sama, ia berpendapat bahwa nikah yang dimaksudkan adalah untuk semua akad nikah.
b. nikah muhallil
dalam hal ini Fuqaha berselisih pendapat mengenai nikah muhallil. Yakni jika seorang laki-laki mengawini seorang perempuan dengan syarat (tujuan) untuk menghalalkannya bagi suami yang pertama.
Menurut Imam Malik nikah tersebut sudah rusak, sedangkan menurut imam Syafi’I dan Abu Hanifah perpendapat bahwa nikah muhallil dibolehkan, dan niat untuk menikah itu tidak mempengaruhi syahnya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Daud dan segolongan fuqaha. Mereka berpendapat bahwa pernikahan tersebut menyebabkan kehalalan istri yang di ceraikan tiga kali.
3. perbedaan pendapat para ulama mazhab tentang terjadinya ruju’ melalui perbuatan.

a. Imam Syafi’i
Rujuk harus dilakukan dengan ucapan atau tulisan. Karena itu, ruju’ tidak sah bila dilakukan dengan mencampurinya sesungguhpun hal itu diniatkan sebagai ruju’. Suami haram mencampurinya dalam ‘iddah. Kalau dia melakukan itu, ia harus membayar mahar mitsil, sebab percampuran tersebut tergolong pencampuran syubhat.
b. Imam Malik
Ruju’ boleh dilakukan melalui perbuatan yang di sertai dengan niat untuk ruju’. Akan tetapi bila suami mencampuri istrinya tersebut tanpa niat ruju’, maka wqnita tersebut tidak akan bias kembali kepadanya. Namun percampuran tersebut tidak mengakibatkan adanya hadd (hukuman) maupun keharusan membayar mahar. Anak yang lahir dari perempuan dikaitkan nasabnya kepada laki-laki yang mencampurinya itu. Wanita tersebut harus menyucikan dirinya dengan haidh manakala dia tidak hamil.
c. Imam Hambali
Ruju’ hanya terjadi melalui percampuran begitu terjadinya percampuran, maka ruju’ pun terjadi, sekalipun laki-laki tersebut tidak berniat ruju’. Sedangkan bila tindakan itu bukan percampuran, misalnya sentuhan ataupun ciuman yang disertai birahi dan lain sebagainya, sama sekali tidak mengakibatkan terjadinya ruju’
d. Imam Hanafi
Ruju’ bias terjadi melalui percampuran, sentuhan dan ciuman, dan hal-hal sejenis itu, yang dilakukan oleh laki-laki yang menalak dan wanita yang ditalaknya, dengan syarat semuanya itu disertai dengan birahi. Ruju’ juga bisa terjadi melalui tindakan (perbuatan) yang dilakukan oleh orang tidur, lupa, dipaksa, dan gila. Misalnya seorang laki-laki menalak istrinya, kemudian dia terserang penyakit gila, lalu istrinya itu dicampurinya sebelum ia habis masa iddahnya.

e. Imamiyah
Rujuk bisa terjadi melalui percampuran, berciuman dan bersentuhan, yang disertai syahwat atau tidak dan lain sebagainya yang tidak halal dilakukan kecuali oleh suami. Ruju’ tidak membutuhkan pendahuluan berupa ucapan. Sebab, wanita tersebut adalah istrinya, sepanjang dia masih dalam masa iddah. Dan bahkan perbuatan tersebut tidak perlu disertai niat ruju’. Penyusun kitab Al-Jawahir mengatakan, “barangkali tujuan pemutlakan nash dan fakta tentang ruju’ adalah itu, bahkan ruju’ bisa terjadi melalui perbuatan sekalipun disertai maksud tidak ruju;.” Sayyid Abu Al-Hasan mengatakan dalam Al-Wasilahnya,”perbuatan tersebut mengandung kemungkinan kuat sebagai ruju’, sekalipun dimaksudkan bukan ruju;.” Tetapi. Bagi Imamiyah, tindakan tersebut tidak dipandang berpengaruh manakala dilakukan oleh orang yang tidur, lupa, dan mengalami syubhat, misalnya bila dia mencampuri wanita tersebut karena menduga bahwa wanita tersebut bukan istrinya yang dia talak.
C. Rukun Rujuk
1. Istri, syaratnya pernah dicampuri, talak raj’i, dan masih dalam masa iddah, isteri yang tertentu yaitu kalau suami menalak beberapa istrinya kemudian ia rujuk dengan salah seorang dari mereka dengan tidak ditentukan siapa yang dirujukan-maka rujuknya itu tidak sah.
2. Suami, syaratnya atas kehendak sendiri tidak dipaksa
3. Saksi yaitu dua orang laki-laki yang adil.
4. Sighat (lafal) rujuk ada dua, yaitu
1) terang-terangan , misalnya “Saya rujuk kepadamu”2) perkataan sindiran, misalnya “Saya pegang engkau” atau “saya kawin engkau” dan sebagainya, yaitu dengan kalimat yang boleh dipakai untuk rujuk atau yng lainnya.

Rujuk dengan perbuatan (campur)
Perbedaan pendapat juga terjadi pada hokum rujuk dengan perbuatan. Syafi’I berpendapat tidak sah, karena dalam ayat alqur’an Allah menyuruh supaya rujuk dipersaksikan, sedangkan yang dapat dipersaksikan hanya sigat (perkataan). Perbuatan seperti itu sidah tentu tidak dapat dipersaksikan oleh orang lain. Akan tetapi, menurut pendapat kebanyakan ulama, rujuk dengan perbuatan itu sah. Mereka beralasan kepada firman Allah dalam surat Al-baqarah : 228 yang artinya : “ dan suami-suami berhak merujuknya”
Dalam ayat tersebut tudak ditentukan apakah dngan perkataan atau perbuatan. Hokum mempersaksikan dalam ayat diatas hanyalh sunat, bukan wajib. Qarinahnya adalah kesepakatan ulama (ijma’) bahwa mempersaksikan talaq-ketika menalaq-tidak wajib: demikian pula hendaknya ketika rujuk, apalgi beratri rujuk itu meneruskan pernikahan yang lama, sehingga tidak perlu wali dan tidak perlu ridho orang yang dirujuki. Mencampuri istri yang sedang dalam iddah raj’iyah itu halal bagi suai yang menceraikannya, menurut pendapat abu hanifah. Dasarnya krena dalam ayat itu ia masih disebut suami.

Rujuk itu sah juga meskipun tidak dengan ridho si perempuan dan atas sepengetahuannya karena rujuk itu berate mengekalkan pernikahan yang telah lalu. Kalau seorang perempuan dirujuk oleh suaminya sedangkan ia tidak tahu, kemudian setelah lepas iddahnya perempuan itu menikah dengan laki-laki lain karena dia tidak mengetahui bahwa suaminya rujuk kepadanya, maka nikah yang kedua ini tidak sah dan batal dengan sendirinya dan perempuan tersebut harus dikembalikan kepada suaminya.

About these ads

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

47 thoughts on “Rujuk Dalam Islam

  1. assalamu,alaikum.Saya ingin menanyakan, apalbila istri yang ditalak satu kemudian suami ingin rujuk dengan setelah masa iddah.Di zaman sekarang ini, apalgi dalam mengurangi jumlah anak (keturunan) banyak Keluarga yang masuk KB, seperti suntikan 3 kali sebulan untuk istri agar tidah hamil, atau pemasangan Spriral.Yang ingin saya tanyakan, apabila seorang istri saat ditalak ia daloam keadaan suci (karena suntik KB) 3 bulan sekali, dan pada saat jatuh talak satu istri tersebut baru saja mendapat suntikan KB.Jika adanya keingina sumai untuk rujuk kembali, tentunya sangat lama harus menunggu hinghga 3 bulan lamannya, ataukah ada penjelsan lain tentang hal ini.Mohon penjelasannya.Wassalam

    Posted by mukhlis | Agustus 3, 2011, 4:16 am
    • Rujuk itu adalah jalan yang diberikan oleh Allah untuk kembali kepada Istri, sebagai pembelajaran buat kita agar jangan mengulangi lagi perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kita bercerai dengan istri.

      Posted by nurdinmappa | Agustus 3, 2011, 11:44 pm
      • bagaimana hukumnya bila istri menggugat cerai dan disyahkan pengadilan tetapi keduanya ingin bersatu kembali..apakah syah bila diadakan ijab kabul

        Posted by hendro | September 7, 2012, 3:18 pm
      • masih bisa bersatu kembali setelah habis iddah kalau ia bukan talak 3, kalau talak tiga tidak boleh lagi sebelum istrinya nikah dengan orang lain dengan sungguh2 tanpa skenario kemudian istrinya cerai dengan suaminya barulah suami pertama dapat menikahi wanita itu setelah ia habis masa iddahnya

        Posted by nurdinmappa | November 16, 2012, 1:40 am
    • Sekalipun seorang istri telah memakan Pil KB, yang tentu besar kemungkinan tidak mengandung, tetap berlaku syariat yaitu ia tetap harus diiddah selama 3 kali bersih, karena yang dipentingkan adalah hikmahnya agar jangan ummat ini terlalu melakukan talak terhadap istrinya

      Posted by nurdinmappa | Agustus 4, 2011, 1:00 am
  2. 1. Mohon Maaf.Pertayaan saya, Kapan kita mengetahui jika Masa iddah istri kita habis, sedangkan dia (istri) tidak mendapat haid lagi karena telah suntik KB.

    2. Saat jatuh talak 1, dua hari setelah itu apakah kita bisa rujuk kembali, atau harus menunggu 3 X masa suci.

    Posted by mukhlis | Agustus 3, 2011, 4:37 am
  3. Assalamu’alaikum, saya mau nanya:
    Adik saya (perempuan) dijatuhkan talaq oleh suaminya. Setelah berpikir lagi (mungkin tadi dalam keadaan emosi) akhirnya suaminya menyatakan menyesal dan ingin rujuk. Pertanyaan: bagaimanakah proses rujuk dari situasi di atas? Apakah harus menghadap KUA dan menghadirkan saksi lalu mengulang kembali ijab kabul? Ataukah suami dan istri bisa langsung berkumpul? Sekian dan terimakasih.
    Wassalam,
    Joel

    Posted by Joel Khairul | Agustus 4, 2011, 9:31 am
    • Assalamu alaikum
      Jika talak sudah diucapkan maka talak itu sudah jatuh, jika talaknya baru talak satu atau talak dua maka ia boleh rujuk kembali sebelum habis masa iddahnya, tetapi ia mau rujuk setelah habis masa iddah ia boleh menikah kembali, pernikahan dapat dilakukan biar tidak di depan penghulu, yang penting ada saksinya dan walinya. Dalam surah Al-baqarah :229
      Allah berfirman , yang artinya ” Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. setelah itu boleh dirujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau mengceraikan dengan cara yang baik”

      Posted by nurdinmappa | Agustus 5, 2011, 3:34 am
  4. apakah wanita yang ditalak masih berstatus istri selama masa iddah? jika iya berarti masih boleh tinggal 1 rumah? trimakasih jawabannya…

    Posted by diana | November 11, 2011, 5:09 am
  5. Assalamu’alaikum,

    Izinkan saya bertanya. Saya suami yang sudah menjalankan perkawinan yang harmonis tanpa pertikaian yang berarti selama 1,5 tahun. Saya masih bekerja dan selalu memenuhi kewajiban saya sebagai suami, berbadan sehat dan berpenghasilan cukup. Bahkan setelah menikah saya juga pernah membantu istri agar dapat melanjutkan kuliah S2-nya di luar negeri hingga selesai. Saya pernah menjatuhkan talak 1 kepada istri saya (melaui e-mail dan sms) ketika dia menolak pulang ke Jakarta dan meninggalkan pekerjaannya yang baru 2 bulan dia jalani, namun karena merasa waktu itu dalam keadaan emosi, setelah berjalan masa iddah selama hampir 11 hari lamanya saya merasa menyesali keputusan talak tersebut lalu mengajaknya rujuk (melaui e-mail). Setelah sepuluh hari dari waktu saya ajak rujuk, istri saya mengatakan melalui surat tertulis bahwa dirinya tidak menerima rujuk tersebut dan akan menerima konsekwensi menurut undang-undang atau peraturan yang berlaku, juga dia tetap tidak mau berkomunikasi baik via telepon, sms , e-mail, maupun bertemu langsung. Sebagai informasi, Sejak dihari saya jatuhkan talak tersebut hingga saat ini, istri tidak pernah mau berkomunikasi dengan cara apapun (istri berada di luar negeri). Pertanyaan saya, apakah sah jika rujuk saya ditolak oleh istri? bagaimana dengan keadaan talak itu setelah saya rujuk istri saya? Apa saran terbaik untuk menghadapi masalah ini dan bagaimana solusi terbaiknya menurut pandangan islam? Mohon pencerahannya atas masalah saya ini, karena saya masih tetap mencintainya dan tidak ingin bercerai sama sekali. Terima kasih atas perhatiannya. Wassalam, Sapto.

    Posted by Sapto | Februari 17, 2012, 7:06 am
    • sesungguhnya menurut syariat anda dapat rujuk kembali, tetapi jika istri anda tdk mau ini yang tdk dapat dipaksa, kalau anda masih mencintainya lebih baik ketemu langsung dan membicarakan masalah anda berdua

      Posted by nurdinmappa | April 8, 2012, 12:41 pm
  6. Asslkm Wr.Wb,saya mo nanya:
    bagaimana hukumnya jika seorang istri minta cerai..kemudian saya kabulkan cerai tu tp saya dalam keadaan marah..kemudian saya minta rujuk ke isteri saya tu sebelum habis masa iddah tetapi dia tidak mau..bagaimana tu pak Ustadz..saya masih ingin mempertahankan rumah tangga saya…

    Posted by kukuh | Februari 17, 2012, 9:44 pm
  7. Beberapa tahun yang lalu teman saya pernah cerai dan rujuk kembali… Setelah beberapa tahun kemudian mereka bertengkar dan terucap kata talak 1 dari suami dan di perkuat dgn sms…. Apakah talak yang terakhir ini dihitung sebagai talak pertama atau kumulatif menjadi talak ke 2… ?

    Posted by Dab Goddy | Maret 6, 2012, 4:26 am
  8. Bgaimana hal’x jika istri yg udh hbs masa iddah’x,kmudian si suami ingin ruju’ kpd’x,apkh wjib mengadakan nikah bru,. N apkh boleh si istri menolak tawaran ruju’ krn ada’x bbrapa alasan…??

    Posted by Siti Humairo' | Maret 12, 2012, 10:20 am
  9. assalamulaikum, tentang jatuhnya talak 3 pada istri. pada hakikatnya jatuhnya hukum sesuatu itu dilakukan dengan sadar dan tidak dalam keadaan emosi. nah pertanyaannya adalah apakah talak 3 jika diucapkan dalam keaadaan emosi ato cekcok juga dikatagorikan jatuh talak dan harus menikah dulu salah satunya? terimakasih

    Posted by A.muis | September 28, 2012, 3:42 am
  10. assalamualaikum wr.wb
    apa hukum nya suami mjatuhkan talak satu pada saat istri sdg haid tetapi suami tdk tau karena via email.

    trus apa perlu suami dikasih tau sdgkan suami enggan komunikasi dgn istri

    mhn pencerahannya terima kasih

    assalamualaikum wr.wb

    Posted by afi | Oktober 1, 2012, 2:00 pm
  11. assalu’alaikum…
    saya mempunyai teman, teman saya itu telah dceraikan suaminya.dan pada masa iddah suaminya telah melakukan hubungan badan terhadap istri yang telah ditalak 1, dan mempunyai niat rujuk,tapi belum bisa melaporkan ke KAU, karena tidak direstui orang tuanya.apakah itu sudah sah rujuknya?
    Mohon penjelasannya! terimakasih.

    Posted by tata | Oktober 29, 2012, 5:49 am
  12. apa jika sudah diputuskan cerai dari pengadilan itu sudah termasuk talak 3?

    Posted by tata | Oktober 30, 2012, 5:23 am
  13. apa manfaat dari thalak, iddah dan rujuk

    Posted by Viirhaa Alyssa | November 8, 2012, 12:16 pm
    • Thalak sesungguhnya perkara halal yang dibenci oleh Allah, sehingga thalak adalah penyelesaian akhir jika tidak ada lagi jalan lain, sehingga manfaatnya hanya sebatas menyenlsaikan masalah yang mungkin berlarut menuju kepada kepastian hukum, sedangkan manfaat iddah adalah untuk memberi tenggang waktu bagi siwanita apakah ia memiliki atau tidak dari turunan suaminya yang kedua memberi kesempatan kedua belah pihak untuk berfikir jernih siapa tahu mereka mau rujuk kembali, manfaat rujuk adalah menyambung kembali tali pernikahan sekaligus menjadi pembelajaran bagi kedua pihak untuk lebih berhati-hati dalam memutuskan sesuatu.

      Posted by nurdinmappa | November 16, 2012, 1:09 am
  14. aslmkm ,.batas waktu khulu,dan apa hukumnya bagi orang2 ataupu keluarga yg memaks agar menceraikan suaminya.?

    Posted by sapto | November 10, 2012, 9:06 pm
    • Keluarga sebaiknya menccarikan jalan untuk melakuakn ishlah apa bila ada keluarga yang bermasalah, tidak malah mereka yang memperkeruh suasana, lebih-lebih memaksa untuk cerai, keluarga yang seperti ini berarti telah melakukan pelanggaran!

      Posted by nurdinmappa | November 16, 2012, 1:18 am
  15. assalamu alaikum, apakah jatuh talak jika seorang suami mengatakan : “sya titip anak2″ dimana kasusnya suami sedang tinggal da bekerja di kota yang berbeda dan ucpaan itu di lafadzkan di saat berada diluar kota dan sedang bertengkar, serta sang suami tidak mengerti aturan jika mengucapkan lafadz yang mengarah ke talaq akan jatuh talaq,
    dan apakah jika sedang masa iddah masih halal untuk saling bersentuhan badan?
    syukron

    Posted by syamsul qadar | Januari 1, 2013, 1:08 am
  16. asslamualaikumwrwb
    ustad mau nya sya nkah sdhh hmpir 3th tpi slma 3thn sya mnlantarkn anak dan istri sya
    sya mnysal,ustad
    slma 3 thn ni blim da kta cerai
    trus sya mau blik lgi dan ingn mmprbaiki kslahan sya
    tpi orng tua istri sya tdak stuju
    apakh prnikahan sya msih sah

    Posted by ade akatsuki | Juni 27, 2013, 9:29 pm
  17. aslm alkm,wrwb” sy menjatuhkan talaq 1 kepada istri sy skitar pukul 4sore,melalui handphone,, dan di pararel ke dua handpone temen lainnya untuk sebagai, saksinya,,,sedangkan pertanyaan sy ,,selepas magrib di hari yg sama, sy merujuknya kembali masih melualui handphone,,jawabanya tidak menjawab iya, tp melainkan ketawa ngakak duluan terus dia bilang bang abang tadi abang sadar ngga? kata sy, mknya sy nge rujuk juga,tadi sy khilaf,,, tidak tidak memastikan jawabannya tp ngobrolmah terus sampai ada kurang lebih 30 menit mah,,,

    Posted by Kang Azza | Agustus 26, 2013, 7:58 am
  18. saya ingin bertanya..
    saya menikah hampir 10 tahun dengan suami,saya sudah pernah menggugat suami karena dia pukul2 saya.dan akhirnya kami rujuk kmbali….dan seiring berjalan waktu suami saya ada wanita lain,dan akhirnya saya gugat lagi…dan saat ini pun belum ada kptusan dari pgdilan,dan saya ingin kembali dengan suami saya.apakah hukum nya dalam islam ketika seorang istri yang telah mengugat suami 2 x dan ingin kembali…mohon jawabannya..saya sangat membutuhkan.terima kasih

    Posted by olive | Oktober 5, 2013, 6:38 am
  19. assalamualakum warahmatullahi wabaraku.
    apa manfaat rujuk dalam islam?

    Posted by Hamka cadaz | Oktober 26, 2013, 5:48 am
  20. Assalamualaikum wr,wb

    Pak Ustad Mohon bantuannya untuk menyelesaikan masalah saya ini,
    suami saya dipaksa untuk menceraikan saya oleh keluarganya dan saya mendengar dari sahabat saya yang kebetulan sahabat saya, sahabta saya dekat dengan keluarga suami saya, setelah itu saya minta di ceraikan dengan kalimat “bila memang kamu tidak lagi mengharapkan perkawinan dengan saya ceraikan saja dan turuti mau keluargamu itu”, saya tidak tahu apakah suami saya berniat menceraikan saya atau tidak,
    pernah ia berkata ” baiklah kalau maunya kamu cerai ya suadah kita cerai namun apakah kamu kuat bila tidak bersamaku selama dalam waktu sekian bulan…” apakh perkataan suami saya ini sudah termasuk apa jenis talaq tersebut???

    Terimakasih

    wassalamualaikum wr,wb.

    Posted by rosiah (@rosiah4) | November 11, 2013, 6:54 am
    • ukhti: sebetulnya ucapan suami ibu itu belum menunjukkan ketegasan cerai karena ia katakan jika kamu menghendaki, jadi terpulang kepada ibu, ketika suami mengatakan kalau kamu mau bercerai kita bercerai saja, lalu ibu memang waktu itu menginginkan maka jatuh talak ibu, tapi kalau tidak maka belum talak karena ia memberi syarat dari ibu!

      Posted by nurdinmappa | Januari 23, 2014, 2:22 am
  21. menurut ketentuan Islam, jika anda talak tiga, maka anda harus dulu nikah dengan orang lain, dengan ikhlas, lalu cerai barulah anda bisa nikah lagi dengan suami anda, kalau anda tidak rujuk hukumnya jaiz

    Posted by nurdinmappa | November 2, 2010, 7:02 am
  22. Rujuk dapat dilaksanakan apabila talak 1 dan masih berada dalam masa iddah, tetapi jika talak 3 maka harus dulu salah satunya menikah dengan orang lain kemudian bisa menikah kembali dengan bekas istrinya. Mengenai saksi ada dua pendapat yang menyatakan tidak perlu ada saksi, ada juga mengatakan dibutuhkan saksi

    Posted by nurdinmappa | Februari 22, 2011, 1:54 am

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: