//
you're reading...
Materi Seminar

Pembangunan Ekonomi dan Perubahan Iklim (Climate Change)

Perubahan iklim — yang dampaknya telah menghancurkan dan mengancam kelangsungan pembangunan dan berbagai kegiatan social-ekonomi manusia – pada dasarnya  disebabkan oleh berbagai kegiatan ekonomi manusia yang menggunakan bahan bakar fosil (minyak, batubara dan gas) dan melakukan alih fungsi lahan.  Karena itu, manusia dapat mencegah dan mengendalian perubahan iklim.

Perubahan Iklim

Perubahan iklim adalah perubahan unsur-unsur iklim khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun.   Perubahan Iklim ditandai dengan peningkatkan suhu atmosfir bumi yang mengakibatkan perubahan pada unsur-unsur iklim lainnya seperti peningkatan suhu daratan dan lautan, pencairan lapisan es dan glacier yang menyebabkan peningkatan permukaan laut (sea level rise), perubahan variabilitas dan musim hujan, serta perubahan pola variabilitas iklim alami. Semua perubahan ini akan merubah pola iklim dunia.  Peristiswa peningkatan suhu rata-rata di seluruh permukaan bumi yang mengakibatkan bumi makin panas dikenal dengan nama pemanasan global (Global Warming).

Box 1.

  • Selama rentang waktu 100 tahun terakhir (1906-2005) telah terjadi kenaikan suhu udara rata-rata global sebesar 0.74oC [0.56 to 0.92] oC.  Kenaikan suhu rata-rata tahunan di Indonesia adalah sekitar 0.2-1.0oC dari kurun waktu tahun 1970-200;
  • Para ilmuawan memperkirakan bahwa kalau keadaan seperti ini terus berlanjut, maka 100 tahun ke depan suhu rata-rata global akan meningkat 1.4-5.8oC;

Sumber: IPCC 2007 dan 2001

Penyebab Perubahan Iklim

Perubahan iklim terjadi sebagian besar akibat perbuatan “tangan-tangan manusia”. Berbagai kegiatan ekonomi manusia dalam bentuk penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan tataguna (alih fungís) lahan telah banyak menyuntikan dan meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca ke dalam atmosfir bumi: Karbondioksida (CO2), Dinitroksida (N2O), Metana (CH4), Sulfurhexafluorida (SF6), Perfluorokarbon (PFCs), Hidrofluorocarbon (HFCs). Berbagai kegiatan manusia yang menghasilkan GRK adalah:

  • Energi: Penggunaan dan pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, batubara dan gas bumi untuk kegiatan transportasi dan pembangkit tenaga listrik, dan industri manufaktur.  Proses kegiatan pertambangan batubara, minyak dan gas bumi.
  • Proses industri dan Penggunaan Produk: Emisi yang dihasilkan dari industri mineral (i.e. industri semen); Industri kimia (i.e. Petrokimia dan produksi amoniak); Industiri logam/metal (i.e. produksi besi dan baja); Industri elektronik (i.e. semikunductor, photovoltaic); Penggunaan bahan pelarut (solven) dan penggunaan bahan-bahan penganti perusak ozon (HCFCs)
  • Pertanian, kehutanan dan penggunaan lahan lainnya: Kegiatan peternakan, kegiatan alih fungsi lahan, kegiatan pertanian padi (sawah), pemananen kayu, aplikasi pupuk urea.
  • Limbah/waste: Pembuangan limbah padat seperti TPA, pemberian perlakuan biologis terhadap limbah padat, Pembakaran limbah dengan incenerator dan pembakaran limbah secara terbuka, pengolahan air limbah dan pembuangannya (air limbah domestik dan industri);
  • Lain-lain: Emisi N2O tidak langsung dari deposisi nitrogen atmosferik (NOx dan NH3;

Sumber-sumber GRK dan tata cara inventarisasinya secara detail dapat dilihat pada: IPCC 2006, 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories, Prepared by the Nacional Greenhouse Gas Inventories Programme, Eggleston H.S., Buendia L., Miwa K., Ngara T. and Tanabe K. (eds). Published: IGES, Japan.

Konsentrasi karbondiaksida (CO2) global di atmosfir meningkat sangat pesat dar 290 ppm pada pra-industri  menjadi 379 ppm pada tahun 2005.   Laju peningkatan konsentrasi CO2 dari tahun 1995-2005 adalah 1.9 ppm per tahun. Demikian juga dengan konsentrasi metan (CH4) meningkat dari 715 ppb pada pra-industri  menjadi 1732 ppb pada awal tahun 1990 dan 1774 ppb pada tahun 2005.  Konsentrasi Dinitroksida (N2O) meningkat dari 270 ppb pada para-industri ingá 319 ppb pada tahun 2005 (Laporan IPCC, 2007: Climate Change 2007-The Pphysical Science Basis)

Di Indonesia — Berdasarkan Hasil Inventarisasi GRK pada tahun 1994 — total emisi CO2 sebanyak 748.607,00 Gg.  Sumber utama emisi ini adalah kegiatan kehutanan (pembakaran biomassa pada saat konversi hutan dan padang rumput) dan penggunaan energi.  Total emisi metana adalah 6.409,00 Gg.  Sumber utama emisi metana adalah kegiatan pertanian terutama lahan persawahan.  Total emisi N2O sekitar  61,11Gg.  Sebagian besar emisi N2O berasal dari sektor pertanian

Box 2.

  • Rata-rata, untuk setiap liter bahan bakar yang digunakan oleh mobil akan melepaskan 2.5 kg CO2(EU) ;
  • Energi listrik sebesar 1 KWh, pembangkit listrik yang menggunakan batubara menghasilkan sekitar 940 gram CO2,  minyak bumi = 798, gas alam 581 gram CO2 (KLH 2004)
  • AC yang beroperasi pada daya 1000 watt menyebabkan emisi GRK sebesar 650 gr CO2 per jam (EU)
  • 1 ton sampah padat menghasilkan sekitar 50 kg gas metana (KLH 2004);
  • Laju emisi metan rata-rata (flux rate) dari sawah adalah 16.0-26.1 mg/m2/jam untuk plot yang diberikan pupuk kimia, dan 23.3-34.9 mg/m2/jam untuk plot yang diberikan aplikasi batang padi (rice straw) (Nugroho, Lumbanraja, Suprapto, Sunyoto, Ardjasa, Haraguchi & Kimura, 1996)

Dampak Perubahan Iklim

Perubahan iklim mengancam kelangsungan pembangunan dan kegiatan ekonomi manusia seharí-hari serta memberi dampak negatif yang nyata bagi jutaan masyarakat di dunia, seperti masalah-masalah:

  • Kesehatan: mewabahnya penyakit tropis seperti malaria dan deman berdarah.  Naiknya suhu udara menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek, sehingga nyamuk deman berdarah dan malaria berkembang lebih cepat.  Frekuensi terjadinya penyakit diarre dan leptospirosis semakin meningkat, seiring dengan meningkatnya frekuensi kejadian banjir akibat pemanasan global (KLH 2004)
  • Pertanian: Penurunan luas lahan dan produktivitas tanaman serta kegagalan panen (akibat banjir dan kekeringan) yang mengancam ketahanan pangan (food security)
  • Kehutanan: perubahan tataguna dan fungsi hutan.  Musim kemarau panjang pada tahun 1994 telah menyebabkan hutan seluas 5 juta ha terbakar.  Peristiwa El-Nino tahun 1997-1998 kawasan hutan yang rusak akibat kebakaran hutan hampir seluas 10 juta ha (KLH 2004).
  • Sumberdaya air: berkurangnya kuantitas dan kualitas air.  Setiap kenaikan air laut setinggi 0.5 cm, akan menyebabkan pengurangan ketebalan air tanah  20 cm (Prinsip Ghyben-Herzberg).  Banjir dan kekeringan yang sering terjadi akhir-akhir ini juga disebebkan oleh kerusakan lingkungan yang diperparah oleh fenomena perubahan iklim.
  • Kawasan pesisir: kawasan pesisir tenggelam dan berubah fungsi.  Diperkirakan 30 % garis pantai di dunia akan lenyap pada tahun 2008 (IPCC). Nicholls et al. (1995) dalam Robert T. Watson (1997) memperkirakan bahwa kenaikan permukaan air laut setinggi 1 meter dapat menyebabkan lahan seluas 34.000 km2 hilang dari bumi Indonesia  dan menyebabkan 2 juta orang kehilangan rumah. Kenaikan permukaan air laut antara tahun 1925-1989 di Jakarta 4.38 mm/tahun, Semarang 9.27 mm/tahun dan Surabaya 5.47 mm/tahun (KLH 2001). Menurut Dalil Bruun: erosi pantai akan bertambah dengan rata-rata 1 m untuk setiap kenaikan 1 cm permukaan air laut. Menurut Wilkonson dalam Mudiarto (2003) pemutihan karang (Coral bleacing) telah terjadi sebanyak 30 % di Indonesia.
  • Species dan kawasan alami: Kepunahan species dan kerusakan habitat alami.

Upaya Mengatasi Perubahan Iklim

Perubahan Iklim yang tidak terdeteksi akan menjadi bencana lingkungan dan ekonomi.  Bencana ini pada akhirnya akan menjadi tragedi kemanusian yang menghacurkan berbagai aspek kegiatan ekonomi dan social manusia. Karena itu sangat penting bagi kita semua untuk mengambil langkah-langkah nyata untuk bersama-sama mengurangsi penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim (mitigasi), serta untuk melakukan penyesuan-penyesuan terhadap dampak dari perubahan iklim yang saat ini sudah kita rasaka (adaptasi).

Upaya Mitigasi yaitu menekan laju emisi GRK dari sumbernya yang dapat kita lakukan bersama:

  • Mengintegrasikan mitigasi perubahan iklim dalam proses perencanaan pembangunan dan proses AMDAL selama umur proyek;
  • Mengembangkan proyek-proyek Clean Development Mechanism (CDM)
  • Melakukan efisiensi dan konservasi energi, melakukan diversifikasi energi dan beralih kepada energi terbaharukan (angina, air dan matahari).  Contoh yang dapat dilakukan adalah mematikan lampu yang tidak diperlukan, menganti bola lampu biasa dengan bola lampu hemat energi, berjalan atau menggunakan sepeda untuk perjalan jarak dekat.
  • Mencegah dan mengurangi deforestasi, menggalakkan reforestasi & aforestasi, menekan kejadian kebakaran hutan.  Contoh adalah tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar, melakukan kegiatan penanaman pohon mulai dari rumah sendiri, kawasan sekitarnya dan kawasan perkotaan (RTH).  Menetapkan dan merestorasi kawasan lindung.
  • Mengubah cara bertani dari sawah tergenang menjadi  sawa dengan pengenangan berkala (intermitent), mengganti jenis padi, serta pengelolaan sampah pertanian, pengelolaan pakan ternak, pemanfaatan kotoran ternak menjadi sumber pembangkit listrik tenaga biogas;
  • Pengelolaan Sampah dengan prinsip 3 R (Reduce, Reuse and Recycle);

Upaya adaptasi yaitu penyesuain (adjustment) terhadap dampak perubahan iklim yang dapat dilakukan adalah seperti:.

  • Mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dalam proses perencanaan pembangunan dan proses AMDAL selama umur proyek;
  • Mengembangkan dan mengoperasikan sistem peringatan dini mengenai kondisi cuaca dan kemungkinan terjadinya bencana lingkungan, mulai dari yang sederhana (berbasis masyarakat) sampai dengan menggunakan teknologi tinggi, termasuk peta kerentanan dampak perubahan iklim;
  • Manajemen pengelolaan dan pengawatean air termasuk pembuatan sumur-sumur resapan untuk memanan air hujan (rain water hasvesting) dalam rangka mengatasi masalah kekeringan dan kelangkaan air; manajemen pengelolaan dan pemanfaatan lahan, serta aforestasi di lereng dan dataran tinggi lain untuk mencegah dan mengatasi masalah erosi, banjir dan longsor;
  • Tidak melakukan kegiatan-kegiatan pembangunan di kawasan lindung sempadan pantai dan sungai, serta kawasan-kawan berlereng terjal untuk mengurangi resiko kenaikan permukaan air laut, banjir dan lonsor akibat perubahan iklim.

Aturan Hukum Terkait Perubahan Iklim

Beberapa peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perubahan iklim antara lain:

  • UU No. 6 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Konvensi Perubahan Iklim;
  • UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
  • UU No. 17 Tahun 2004 tentang Ratifikasi Protokol Kyoto;
  • Kepmen LH No. 206 Tahun 2005 Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih
  • PerMenHut No. 14 Tahun 2004 tentang Peraturan dan Prosedur Implementasi Aforestasi dan Reforestasi Mekanisme Pembangunan Bersih (A/R MPB)

Mendapatkan Informasi Terkini Perubahan Iklim

Informasi terkini mengenai perubahan iklim dapat diperoleh dari beberapa website antara lain:

Disusun oleh: Erik Teguh Primiantoro

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Tata Lingkungan

Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sulawesi Maluku dan Papua, KLH.

Jl. P. Kemerdekaan Km, 17 Sudiang, Makassar 90243 Sulsel

Telp: 0411-555 701, 555 702, Fax. 0411-555 703

About these ads

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: