//
you're reading...
Ungkapan Hikmah

Munajat Yang Tak Pernah Putus

Beginilah sang musafir, mulai terbangun dari tidurnya yang panjang, Ia mulai membersihkan wajahnya dengan wudhu dan menjalani hari-harinya dengan munajat yang tiada pernah putus.  Hatinya telah terbang tinggi ke langit dan terpaut di sana. Sementara kakinya beranjak dari satu tempat ke tempat yang lain dalam bumi, hatinya bercengkrama di ketinggian langi.

Kini sang musafir telah menyadari bahwa doa bukanlah pekerjaan sederhana.  Doa bukanlah kumpulan kata yang kering ,doa bukanlah harapan yang dingin.  Doa bukanlah sekadar menengadahkan kedua tangan di langit.

Tidak ! Kini sang musafir menyesali mengapa ia terlambat memahami makna dan hakikat doa .  Ternyata doa adalah “surat ” dari sang jiwa yang senangtiasa terpaut pada langit.  Doa adalah rindu kepada Allah yang tak pernah selesai.  Maka, setiap kata dalam doa adalah gelombang jiwa yang getarannya niscaya terdengar ke semua lapisan langit.  Di sini, tiada tempat bagi ke pura-puraan .  Di sini, tak ada ruang bagi kebohongan.  Begitulah jiwa sang musafir, terus berlari ke perhentian terakhir , ketiga raganya masih berada dalam gerbon kereta waktu, dengarlah munajat sang musafir ” Ya Allah bantulah aku untuk senangtiasa mengingat-Mu dengan cara yang baik ”

Anis Mata dalam berdoa itu ada seninya *

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: