//
you're reading...
AIK VI

Islam Dalam Membangun Rumah Tangga

I. Nikah

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pernikahan dianggap sah apabila dilakukan menurut hukum perkawinan masing-masing agama dan kepercayaan serta tercatat oleh lembaga yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku.

Perkawinan adalah salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan kekal selamanya. Perkawinan memerlukan kematangan dan persiapan fisik dan mental karena menikah / kawin adalah sesuatu yang sakral dan dapat menentukan jalan hidup seseorang.

Dasar dan Tujuan Pernikahan Menurut Agama Islam :

A. Dasar Hukum Agama Pernikahan / Perkawinan (Q.S. 24-An Nuur : 32)

“Dan kawinlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan mereka yang berpekerti baik. Termasuk hamba-hamba sahayamu yang perempuan.”

B. Tujuan Pernikahan / Perkawinan (Q.S. 30-An Ruum : 21)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Menurut Ayat di atas tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan :

– Ketentraman

– Mendapatkan kasih sayang

Disamping itu menurut Hadits Rasululah, tujuan pernikahan Adalah untuk menjada pandangan, dan kehormatan (menjaga faraj) ,Rasul Bersabda:

” Wahai sekalian pemuda apabila telah telah mempunyai kemampuan maka nikalah karena itu dapat menundukkan pandanganmu dan menjaga kehormatan, barang siapa yang belum mampu berpuasalah”

Sedangkan secara biloginya adalah untuk memenuhi kebutuhan seks secara syah dan halal serta untuk mendapatkan keturunan.

C. Syarat dan Rukun Nikah

Rukun adalah unsur-unsur yang harus ada untuk dapat terjadinya suatu perkawinan. Rukun perkawinan terdiri dari calon suami, calon isteri, wali nikah, dua orang saksi serta ijab dan kabul

�    Syarat perkawinan adalah syarat yang harus dipenuhi oleh masing-masing unsur perkawinan.

1. Calon suami-isteri syarat-syaratnya:

a)     Umur calon suami 19 tahun; calon isteri 16 tahun (Pasal 7 UUP).

b)     Mempelai yang belum berumur 21 tahun harus ijin orang tua.

c)     Ada persetujuan calon mempelai.

d)     Antara calon mempelai tidak terdapat halangan perkawinan.

2. Sebab-sebab Larangan Perkawinan

a)        Karena pertalian nasab :

�         ibu, nenek dan seterusnya, anak, ducu, dan seterusnya.

�         saudara-saudara perempuan dan seterusnya ke bawah.

�         bibi dan seterusnya ke atas.

b)        Karena pertalian kerabat semenda

�         mertua, ibu tiri (bekas isteri ayah), anak tiri (kecuali putusnya hubungan perkawinan dengan bekas isterinya itu qobla aldukhul, menantu/bekas isteri anaknya.

c)        Karena pertalian sesusuan

�         ibu sesusuan dan seterusnya ke atas.

�         saudara sesusuan dan seterusnya ke bawah.

�         kemenakan sesusuan dan seterusnya ke bawah.

�         bibi dan nenek bibi sesusuan ke atas

�         anak yang disusui isterinya dan keturunannya.

d)        Seorang pria dilarang memadu isterinya dengan wanita yang mempunyai hubungan nasab atau susuan dengan isterinya (saudara kandung, seayah, serta keturunannya; bibinya atau kemenakannya).

e)        Seorang pria dilarang kawin lebih dari empat orang wanita.

f)         Dilarang kawin seorang pria dengan:

�         wanita bekas isterinya yang ditalak tiga kali, kecuali telah terpenuhinya syarat-syarat tertentu.

�         wanita bekas isterinya yang telah di li�an.

g)        Wanita Islam dilarang kawin dengan pria non-Islam.

3. Larangan Perkawinan dalam Keadaan Tertentu

a)     Wanita yang masih terikat perkawinan dengan pria lain.

b)     Wanita yang masih dalam masa iddah dengan pria lain.

c)     Wanita yang tidak beragama Islam

4. Peminangan

a)  Pengertian

Peminangan dalam fiqh disebut khitbah = permintaan, adalah pernyataan atau permintaan dan seorang laki-laki kepada seorang wanita dengan maksud untuk dinikahinya, baik dilakukan oleh laki-laki yang bersangkutan secara langsung maupun melalui perantaraan pihak lain yang dipercaya sesuai dengan ketentuan agama.

Peminangan menurut KHI adalah kegiatan upaya ke arah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita (Pasal 1 huruf a KHI).

b)  Pelaku peminangan

Dapat dilakukan langsung oleh yang bersangkutan dan melalui perantara orang lain yang dapat dipercaya.

c)  Wanita yang dilarang dan haram dipinang.

�   Wanita yang masih menjalani masa iddah raj�i.

�   Wanita yang sedang dipinang oleh pria lain, kecuali pinangan tersebut telah putus dan ditolak.

d)  Putusnya pinangan dan akibatnya

Putusnya pinangan dapat terjadi karena: (1) adanya pernyataan tentang putusnya hubungan pinangan, dan (2) Secara diam-diam pria peminang telah menjauhi dan meninggalkan wanita yang dipinang.

Pinangan belum menimbulkan akibat hukum dan para pihak bebas memutuskan hubungan peminangan dengan tetap mengindahkan tata cara yang baik sesuai dengan tuntunan agama dan kebiasaan setempat dan tetap memelihara kerukunan. Peminangan dalam hukum Islam belum mempunyai akibat hukum. Hal ini mempunyai kesamaan dengan hukum perdata barat yang tidak terdapat sanksi hukum apabila terjadi pemutusan pinangan. Berbeda dengan status �pertunangan� dalam hukum adat. Dalam hukum adat, pertunangan dianggap sebagai suatu lembaga hukum; suatu pengertian hukum, yang konsekuensinya mempunyai akibat hukum, misalnya pihak yang memutuskan/bersalah kehilangan tanda pengikat, mengembalikan dua kali lipat dan membayar denda delik lainnya. Dalam hukum adat, adanya pertunangan berarti seseorang terikat untuk kawin dan ada kewajiban untuk memberikan hadiah-hadiah.

e)  Catatan: Diterimanya pinangan pria oleh pihak wanita belum menghalalkan �hubungan� antara keduanya.

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: