//
you're reading...
Materi Seminar

KATA SI KECIL: “KAMI BUTUH MUHAMMADIYAH”; Angan-angan tentang Muhammadiyah di Abad Kedua (*)

Oleh Said Tuhuleley (**)

IFTITAH

Dua kejadian mengharukan memberi inspirasi bagi dibuatnya judul yang agak bombastis dan sarkastis ini. Kejadian pertama terjadi ketika sekelompok petani di salah satu desa di Jawa Tengah menghampiri Konsultan Pertanian MPM PP Muhammadiyah, Ir. Syafii Latuconsina, untuk mengusulkan agar di desa mereka dibentuk ranting Muhammadiyah. Sang konsultan terheran-heran karena mengetahui persis bahwa para petani yang menghampirinya itu bukan warga Muhammadiyah tapi warga dari salah satu organisasi kemasyarakatan. Karena itu konsultan itu pun berkata, ”Bapak-bapak kan bukan anggota Muhammadiyah, kok mau buat ranting Muhammadiyah di sini”. Para petani dengan sigap menjawab, ”Iya, kami bukan anggota Muhammadiyah, tapi kami ingin membuat ranting Muhammadiyah di desa kami, biar bapak-bapak dari Muhammadiyah mau dampingi kami terus”. Kejadian kedua terjadi ketika salah seorang anggota MPM PP Muhammadiyah yang asli Pare Pare, Syahril Syah,  ditelepon seorang petani dari Wajo. Kata petani itu, ”Pak, apakah MPM dapat melakukan pelatihan petani di tempat kami?”. Sayhril, yang mantan Ketua DPP IMM,  balik bertanya, ”Bapak dari Muhammadiyah Cabang mana?”. Sang petani menjawab pasti, ”Kami dari NU Pak, tapi kami MPM, kami juga mengikuti pelatihan petani yang dilakukan MPM Muhammadiyah di Wajo beberapa waktu lalu”.

Dua ilustrasi yang berasal dari kisah nyata di atas memperlihatkan dua hal sekaligus, pertama, kebutuhan masyarakat tani untuk didampingi guna meningkatkan usaha tani mereka masih sangat tinggi, dan kedua, dengan sedikit sentuhan pendampingan para petani sudah merasakan manfaat langsung Muhammadiyah bagi mereka. Simpul kedua ini tentu saja dengan catatan bahwa MPM maupun Pimpinan Persyarikatan setempat memberi perhatian yang serius dan kontinyu bagi pengembangan aktivitas pendampingan itu. Sebab di banyak tempat, selesai Tim MPM PP Muhammadiyah melakukan pelatihan kepada petani, MPM setempat menganggap kegiatan pendampingan sudah selesai, dan karena itu tidak ada lagi kelanjutan aktivitas, tinggal tunggu panen saja.

Maka ketika kita masuk pada pembicaraan tentang bagaimana strategi rekrutmen anggota dan simpatisan Muhammadiyah, termasuk bagaimana mengupayakan pembentukan ranting Muhammadiyah baru, penulis langsung teringat pada prinsip yang dipakai Dewan Mahasiswa tempo hari: ”Dewan Mahasiswa harus merumuskan program yang memenuhi kebutuhan mahasiswa yang mendesak”. Dalam skala yang jauh lebih luas, jawaban terhadap pertanyaan, ”Bagaimana strategi rekrutmen anggota dan simpatisan Muhammadiyah”, sebenarnya tidak terlalu rumit: ”Lakukan aktivitas yang dapat mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat, sebagaimana Kyai Dahlan tempohari merintisnya”.

Makalah sederhana dan amat bersahaja ini ditulis dalam kerangka berpikir seperti itu. Pada bagian awal penulis mencoba membiarkan angan-angan tentang Muhammadiyah di Abad Kedua itu menerawang jauh, melintasi zaman; mendudukkan Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi besar yang sangat dibutuhkan masyarakat karena program-programnya bermanfaat bagi masyarakat dan lebih khusus lagi dapat mengangkat harkat dan martabat kaum miskin sebagaimana spirit utama surat Al-Maa’uun. Bagian berikutnya barulah penulis masuk pada pembahasan tentang prasyarat dan langkah strategis apa yang dapat dilakukan.

Akan tetapi penulis perlu memohon maaf terlebih dahulu, karena keawaman penulis makalah ini menjadi sedemikian sederhana dan bersahaja. Maaf untuk itu.

ANGAN-ANGAN TENTANG MUHAMMADIYAH

Matahari seperti enggan berseri senja itu, di Abad Kedua Muhammadiyah, ketika Daeng Roga,  pengemudi becak di salah satu kota di Negeri Sebrang Wetan berkumpul bersama teman-temannya sesama pengemudi becak. Daeng Roga membuka percakapan dengan keluhan panjang tentang mahalnya biaya sekolah. Kata Daeng Roga, ”Bagaimana kita bisa menyekolahkan anak kalau biaya sekolahnya mahal seperti sekarang?” Daeng roga memang bermimpi bahwa kelak anaknya akan sekolah setinggi-tingginya agar dia tidak perlu lagi menjadi pengemudi becak seperti bapaknya. Temannya, Abduh, menjawab, ”Sekolahkan saja di sekolah Muhammadiyah”. Daeng Roga setengah berteriak menyanggah pernyataan temannya itu, ”Sekolah Muhammdiyah, yang gedungnya megah tapi  mutunya pas-pasan dan  bayarannya sangat mahal itu?” Tidak kalah keras Abduh menimpali, ”Itu dulu Daeng, sekarang sekolah Muhammadiyah itu mutunya sangat tinggi, dan bayarannya sangat murah. Bahkan kalau kita punya keterangan dari pemerintah Desa dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah bahwa kita adalah keluarga miskin, sekolahnya gratis”. Tapi Daeng Roga tetap bergeming, ”Okelah, kalau bayarannya murah. Tapi bagaimana saya mau beli buku untuk anak saya, kan buku sekarang mahal-mahal”. Teman Daeng Roga yang lain menimpali, ”Tidak di, sekolah Muhammadiyah itu menyediakan buku untuk semua mata pelajaran, murid tinggal meminjamnya di perpustakaan”.

Sedang asyik Daeng Roga dan teman-teman ngobrol soal nasib anak-anak mereka, bergabung La Ali, pemuda tegap berkulit sawo matang yang asli Negeri Seberang Kidul. Selesai memberi salam, La Ali sambil mengulum senyum membuka percakapan, ”Kita perlu buat kelompok pengemudi becak. Tidak perlu terlalu banyak jumlah anggotanya, cukup enam sampai sebelas orang tiap kelompok”. Abduh, sambil menyimpan keheranan, menyahut, ”Untuk apa ki kita buat kelompok, dengan begini saja kan kita sudah bisa mencari penumpang?” Sambil mengisap kreteknya dalam-dalam La Ali menjelaskan bahwa di kampung sebelah, Muhammadiyah mulai mendampingi para pengemudi becak dalam kelompok kecil. Kata La Ali, ”Di kampung sebelah itu para istri abang becak dikelompokkan kemudian dilatih untuk membuka usaha mandiri, setelah itu diberi modal usaha. Macam-macam usaha sudah mereka lakukan, terutama untuk pengolahan hasil pertanian dan perikanan serta kerajinan”. Daeng Roga terheran-heran dengan penjelasan La Ali. ”Apa benar ki yang kau katakan itu, tidak membual saja kan?”, sergah Daeng Roga setengah tidak percaya. La Ali setengah menggerutu menimpali, ”Ade deh, masa saya mau bohongi teman-teman sendiri. Kalau tidak percaya tinggal mengayuh becaknya ke kampung sebelah. Bahkan sekarang Muhammadiyah sudah membantu kelompok-kelompok di sana untuk membuka sebuah kios khusus untuk menjual hasil usaha mereka”. Daeng Roga mengangguk-angguk puas. La Ali terus saja menjelaskan, ”Bukan Cuma buka kios, Muhammadiyah juga memfasilitasi abang becak dan para istrinya untuk mengemas produk mereka secara baik dan bahkan memasarkannya juga di supermaket maupun toko-toko. Kata mereka, barangnya laku keras”.

Tengah ’kabinet’ kecil pengemudi becak ini bertukar informasi, tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang anak disusul teriakan ibunya, ”Daeng Roga, Daeng Roga, kemari ki dulu, anaknya kesakitan di perut sebelah kanan. Kata tetangga kita, mungkin kena radang usus buntu”. Setengah berlari, ’kabinet’ kecil pengemudi becak ini berhamburan ke rumah Daeng Roga. Melihat anaknya yang meraung-raung memegang perutnya, Daeng Roga meneteskan air mata sambil berujar buat teman-temannya, ”Kalau usus buntu berarti harus dioperasi. Dari mana saya dapat uang untuk biaya operasi yang sangat mahal itu?”. Abduh mengusulkan jalan keluar, ”Kita bawa saja ke rumah sakit Muhammadiyah. Tapi La Ali tolong minta keterangan dari Kepala Kampung dan Pimpinan Muhammadiyah Ranting, biar operasi bisa dilakukan secara gratis”. La Ali heran, ”Mana ada Ranting Muhammadiyah di kampung kita?”. Abduh tertegun, ”Oh iya. Tapi jangan mi takut, ada seorang guru Muhammadiyah di kampung kita. Minta saja Pak Guru itu memberi keterangan dengan melampirkan foto copy kartu anggota Muhammadiyahnya”. Eh, persoalan pelik teratasi. Daeng Roga mengeringkan air matanya dan mulai sedikit menyungging senyum.

Alkisah, maka terbentuklah kelompok pengemudi becak di kampung itu. Karena pengemudi becak ada 26 orang, maka dibuatlah tiga kelompok kecil, masing-masing beranggotakan delapan sampai sembilan abang becak. Tidak Cuma itu, mereka pun mengusulkan kepada Pak Guru Muhammadiyah di kampung itu agar dibentuk ranting Muhammadiyah.

Lain Daeng Roga, lain pula Mas Budi di Negeri Tengah. Di kampungnya yang sangat terpencil, tinggal sekitar 42 keluarga. Pekerjaan mereka sebagian besar adalah petani. Hampir semua rumah mereka berdinding papan atau gedek. Karena terbatasnya lahan pertanian, rata-rata setiap keluarga hanya memiliki 0,25 ha tanah. Ketika musim tanam tiba, mereka pasti kesusahan karena harga pupuk membumbung tinggi, itu pun sulit didapat. Hasil panen pun sangat memprihatinkan. Rata-rata per hektar sawah hanya menghasilkan 3,5 ton gabah kering panen. Suatu ketika ada salah seorang mahasiswa desa tetangga yang mampir ke desa mereka, kebetulan Si Mahasiswa adalah aktivis IMM. Mahasiswa itu bertamu ke rumah Mas Budi. Melihat kondisi kampung yang mengenaskan itu Si Aktivis IMM kita bertanya pada Mas Budi, ”Apa di kampung ini belum pernah ada pendampingan dari organisasi atau LSM manapun?” Mas Budi bilang memang belum pernah. ”Apa di sini ada Muhammadiyah Ranting?, si aktivis melanjutkan tanya. ”Belum”, ujar Mas Budi pasti. Aktivis IMM kita ini kemudian mengusulkan, bagaimana kalau Mas Budi dan teman-teman petani menghubungi Pimpinan Ranting Muhammadiyah di kampung sebelah untuk meminta agar Pimpinan Ranting Muhammadiyah mendatangkan fasilitator pertanian dari Muhammadiyah Kabupaten.  Mas Budi tersenyum, wajahnya sumringah, sembari membayangkan kampung mereka akan terus ijo royo-royo. ”Allahuakbar, Alhamdulillah, itu yang kami tunggu selama ini Mas IMM”, sambut Mas Budi gembira, sambil melanjutkan, ”Kita perlu segera saja mulai, kami sudah tidak sabar lagi, sudah terlalu lama kami menunggu ada orang yang mau peduli terhadap kami”.

Ringkas ceritera, seminggu kemudian Tim Fasilitator Pertanian dari Muhammadiyah Kabupaten datang untuk melakukan pelatihan bagi para petani, termasuk istri para petani. Tim ini terdiri dari dua laki-laki dan seorang perempuan. Dua orang laki-laki itu masing-masing fasilitator bidang pertanian dan fasilitator bidang peternakan. Sedangkan yang perempuan adalah fasilitator untuk pengolahan hasil pertanian. Setelah mengamati lahan pertanian dengan seksama, fasilitator pertanian Muhammadiyah kabupaten pun menyimpulkan, tanah pertanian sudah mulai rusak karena penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang luar biasa tinggi. Karena itu mereka menyimpulkan para petani harus diajak untuk mulai meninggalkan pupuk kimia dan pestisida dan secara bertahap menggantinya dengan pupuk buatan sendiri yang berbasis bahan organik, terutama kotoran ternak. Kesimpulan lain, petani harus memapu membangun ’pabrik’ pupuk di desa mereka sendiri. Jangan bingung dulu. Pabrik pupuk yang dimaksudkan hanya sederhana: kandangkan semua ternak, khususnya sapi/kerbau dan kambing, kemudian lakukanlah permentasi dengan terlebih dahulu membuat sendiri mikro organisme pengurai atau suka disebut EM-4 dengan memanfaatkan buah-buahan yang dipermentasi, selanjutnya jerami tidak boleh dibakar tapi digunakan untuk dua keperluan, pakan ternak dan bahan dasar pupuk. Itulah pabrik pupuk yang dimasud. Sementara para istri petani mulai dilatih untuk memberi nilai tambah pada hasil pertanian non-beras. Para petani dan para istrinya juga dibagi dalam jamaah atau kelompok kecil. Jamaah atau kelompok kecil ini kemudian bergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN), agar mudah didampingi untuk berhubungan dengan Dinas Pertanian setempat.

Di ujung ceritera, beberapa tahun kemudian hasil pertanian melimpah-ruah. Produksi padi rata-rata per hektar mencapai 10 sampai 12 ton. Dan yang tidak kalah serunya, para petani dengan penuh rasa syukur kepada Allah meminta bantuan kepada Aktivis IMM kita untuk mengurus kartu anggota Muhammadiyah sekaligus mengambil inisiatif mendirikan ranting Muhammadiyah di kampung mereka.

Ternyata di Negeri Seberang Kulon, ada juga ceritera menarik. Zulfikar, seorang buruh di pabrik pupuk Siri-Siri, suatu ketika mengeluh kepada temannya, Ibrahim, yang akrab disapa Bram. “Anak pertama saya lulus dengan nilai terbaik se kabupaten. Kata guru Bimbingan Konselingnya, dia sangat berbakat untuk menjadi seorang dokter, karena itu dia dianjurkan masuk fakultas kedokteran saja sesuai dengan bakat dan kemampuannya”, kata Zulfikar, yang akrab disapa Zul. Menurut Zul ia bingung karena masuk fakultas kedokteran itu kan biayanya mahal sekali. “Mana bisa seorang buruh pabrik seperti kita dapat menyekolahkan anak di fakultas kedokteran. Kan kata para aktivis mahasiswa, orang miskin dilarang jadi dokter”, sahut Zul dengan wajah sendu. Bram sontak menegur Zul, “Kamu kan anggota Muhammadiyah, pengurus lagi. Mengapa tidak masukkan saja anak kamu di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Seberang Kulon? Zul menyanggah, “Ya, tapi biaya di Muhammadiyah kan sangat mahal, lebih mahal dari universitas negeri”. Bram malah tertawa, “Zul……Zul, kamu kok ketinggalan zaman betul. Itu dulu, sekarang ini Muhammadiyah sudah meningkatkan kualitas lembaga pendidikannya, dan membuat semua lembaga pendidikannya dapat dijangkau oleh orang kecil macam kita ini”, sambil menambahkan lagi keterangannya, “Apalagi kamu anggota bahkan pengurus Muhammadiyah. Setiap pengurus Muhammadiyah saat ini kalau mau memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan Muhammadiyah yang mana pun, dibebaskan dari semua pungutan, bahkan SPP pun dipotong 75%”. Zul merinding, karena tak menyangka begitu majunya Muhammadiyah saat ini. Ia berkomentar bangga, “Ternyata enak betul ya menjadi anggota maupun  aktivis Muhammadiyah”. Temannya menimpali, “Bukan cuma anggota atau pengurus Muhammadiyah yang diuntungkan, orang kecil macam kita ini pun sangat diuntungkan oleh Muhammadiyah”.

Zul dan Bram kemudian melangkahkan kakinya memasuki pabrik. Belum sempat melewati gerbang pabrik, merapat Syamsuddin. Lelaki paruh baya yang murah senyum ini ternyata adalah mandor di pabrik mereka. Setelah memberi salam, Syamsuddin, akrab disapa Syam, membuka percakapan, “Saya sedang pusing. Para buruh di Bagian Pengepakan banyak yang di PHK, karena itu mereka berencana akan membawa persoalan itu ke pengadilan”. Zul sambil menekuk wajahnya memberi komentar, “Mengapa pusing, kan tinggal dilaporkan saja”. Sambil tersnyum Syam berujar, “Zul, membawa perkara ke pengadilan itu perlu pengacara, dan membayar pengacara itu tidak murah”. Bram, yang kelihatannya cukup banyak tahu tentang Muhmmadiyah menawarkan jalan keluar. “Ah, mudah saja. Minta saja bantuan dari Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Muhammadiyah. Tidak perlu pakai biaya, karena orang kecil seperti kita ini digratiskan oleh Muhmmadiyah”. Zul dengan nada heran berkomentar, “Bram, kamu kok tahu banyak sekali tentang Muhammadiyah, padahal kamu bukan pengurus Muhammadiyah”. Bram tertawa kecil, “Tak perlu heran, putra kedua saya itu Ketua IPM untuk tingkat propinsi. Dia banyak berceritera tentang Muhammadiyah”. Syam lega mendengar keterangan Bram. Mereka bertiga pun bergegas masuk ke dalam pabrik.

MENGAPA KITA TIDAK MULAI SEKARANG SAJA?

Angan-angan di atas memang muluk-muluk kalau dilihat dari realitas Muhammadiyah saat ini. Sebab angan-angan itu berputar antara kuatnya organisasi karena kegiatannya menyentuh persoalan dasar yang dihadapi masyarakat, dengan berbondong-bondongnya orang masuk menjadi anggota maupun simpatisan Muhammadiyah. Tetapi apakah angan-angan itu tidak dapat dirubah formulasinya menjadi cita-cita dan dituangkan menjadi program kerja, yang pada gilirannya dengan kerja keras sepenuh hati didasari spirit Al-Maa’uun kemudian direalisasikan? Dapat saja, mengapa tidak!

Memang ada prasyarat organisasisional maupun personal yang dibutuhkan untuk merubah angan-angan itu menjadi kenyataan. Karena itu langkah awal adalah mengidentifikasi apa saja prasyarat organisasional dan personal itu, untuk kemudian masuk pada perumusan agenda strategis apa yang dibutuhkan untuk merubah angan-angan menjadi kenyataan.

Prasyarat pertama, jaringan organisasi harus menyentuh semua level masyarakat, ya miskin-ya kaya, ya bodoh-ya pandai, ya tidak tamat SD-ya lulusan S-3.

Prasyarat kedua, rentang organisasi sedapat mungkin masuk sampai satuan terkecil masyarakat, apakah dilihat dari batas administrasi pemerintahan, maupun dari satuan kerja, seperti pabrik, dan sebagainya.

Prasyarat ketiga, sebagai konsekuensi dari prasyarat pertama dan kedua, program dan kegiatan perlu menyentuh semua level dan satuan.

Prasyarat keempat, sebagai kelanjutan dari prasyarat pertama, sifat program dan kegiatan adalah memecahkan masalah masyarakat.

Prasyarat kelima, dalam pemilihan personal kepengurusan, pertimbangan tentang “mereka yang dapat meluangkan waktunya untuk Muhammadiyah” perlu menjadi perhatian penting dan serius, di samping moralitas agama. Sedapat mungkin dihindari pemilihan personal hanya dengan pertimbangan tunggal, yaitu “gelar akademik”, “populer”, “kaya”, “pejabat”, dan sebagainya.

Empat prasyarat organisasional dan satu prasayarat personal di atas diperlukan dalam kerangka membangun persyarikatan Muhammadiyah sebagai suatu lembaga kemasyarakatan yang mengemban misi kerahmatan, Rahmatan lil Alamiin; yang dirasakan dan dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat. Sebab hanya dengan begitu Muhammadiyah menjadi menarik untuk dimasuki atau menerima simpati masyarakat.

Kelima prasyarat itu memang terkesan mudah, tetapi merealisasikannnya dalam realitas Muhammadiyah saat ini sungguh tidaklah sederhana. Saat ini kita sedang dihadapkan pada pilihan-pilihan serius antara memilih jalur pragmatis yang punya efek balik material bagi individu, atau jalur idealis yang tidak punya banyak efek balik material bagi individu pengelola. Tapi itulah pilihan-pilihan. Sehingga sekali kita memilih tetap pada jalur idealis, sebagaimana pilihan para pemimpinan Muhammadiyah selama ini, maka pantang kita surut kembali; dalam pengertian bahwa menghadirkan Muhammadiyah sebagai suatu lembaga kemasyarakatan yang dirasakan dan dibutuhkan masyarakat menjadi bagian dari tanggungjawab bersama kita semua.

Sekarang tinggal bagaimana langkah strategis yang perlu dan dapat kita pilih untuk meletakkan posisi Muhammadiyah seperti itu. Skema berikut ini memberi gambaran awal tentang bagaimana logika pengembangan langkah strategis.

Skema-1. Logika Pengembangan Langkah Strategis

KONSEKUENSI LOGIS                 KONSEKUENSI LOGIS

Skema-1 memperlihatkan bagaimana langkah strategis umum untuk menghadirkan Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan yang dirasakan dan dibutuhkan kehadirannya. Kuncinya adalah pada bagaimana Muhammadiyah mampu mengembangkan aktivitas yang secara langsung dapat membantu memacahkan masalah pokok yang dihadapi masyarakat.

Di dalam bidang pendidikan, misalnya, Muhammadiyah selama ini sudah memberi kontribusi yang besar dalam hal membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Persoalannya adalah, apa sesungguhnya masalah pokok yang dihadapi masyarakat dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan formal, sekarang ini? Tentu tidak sekadar tersedianya ’kursi kosong’ untuk diduduki anak-anak  mereka. Sebab sebagaimana kita ketahui bersama, saat ini dunia pendidikan formal kita mengalami fenomena kesenjangan dalam skala yang tidak kecil; kesenjangan Jawa-Luar Jawa, kesenjangan kaya-miskin, kesenjangan desa-kota, kesenjangan swasta-negeri, di samping tidak meretanya kualitas. Selain itu, dalam batas-batas tertentu, dunia pendidikan formal kita mengalami juga ’ledakan bayaran’, dalam arti biaya pendidikan yang harus ditanggung masyarakat semakin lama semakin membengkak, tetapi tidak diiringi secara signifikan dengan perbaikan kehidupan sosial ekonomi. Sekolah terasa semakin mewah di mata masyarakat, terutama wong cilik. Oleh karena itu wong cilik tidak dapat membangun mimpinya untuk dapat menyekolahkan anaknya di sekolah dengan kualitas prima, sebab pasti akan terlalu mahal.

Dalam kondisi seperti ini Muhammadiyah dituntut untuk membantu masyarakat, terutama rakyat kecil, guna memecahkan masalah pelik di dunia pendidikan yang mereka hadapi. Untuk itu, paling sedikit ada dua langkah strategis yang harus dilakukan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan formal, yaitu, pertama, meningkatkan mutu lembaga pendidikan formalnya secara merata sedemikian sehingga mutu sekolah-sekolah muhammadiyah yang memungut biaya rendah relatif sama dengan mutu sekolah-sekolah Muhammadiyah yang bayarannya mahal dan sangat mahal. Jadi wong cilik tetap punya peluang untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan bermutu. Kedua, Muhammadiyah secara gradual harus mengusahakan agar lembaga pendidikan formalnya tidak memungut biaya yang tinggi, sehingga terjangkau oleh rakyat kecil.

Jika di sektor yang lain pun langkah-langkah strategis, sebagaimana secara sedehana dicontohkan dalam bidang pendidikan di atas, dapat dikembangkan dengan baik, maka kita punya hak untuk berharap bahwa Si Kecil akan berkata dengan gagah: ”Kami membutuhkan Muhammadiyah”. Konsekuensi logisnya kemudian adalah timbulnya simpati kepada Muhammadiyah yang diikuti oleh kemauan untuk menjadi anggota Muhammadiyah. Jadi kuncinya bukanlah terletak pada kata-kata, tetapi pada perbuatan. Kalau itu kuncinya, mengapa tidak kita mulai sekarang saja, toh kita memiliki semua kemampuan untuk melakukan itu dengan baik; kita punya sekian majelis dan lembaga; kita juga memiliki Ortom, baik khusus maupun umum, dan lebih hebat lagi kita juga punya angkatan muda yang tangguh.

Hanya saja ada catatan penting di seputar ini, yaitu bahwa aktivitas Muhammdiyah dilakukan karena dorongan untuk membantu memecahkan masalah masyarakat sebagai pengejawantahan misi Rahmatan lil Alamiin,  bukan ditujukan untuk ’tebar pesona’ agar kemudian orang tertarik kepada Muhammadiyah. Kalau pun orang bersimpati dan masuk menjadi anggota Muhammadiyah, itu hanyalah konsekuensi logis dari aktivitas Muhammadiyah yang memang menyentuh persoalan dasar masyarakat.

BAGAIMANA MEMULAI?

Soalnya bagi kita sekarang ini adalah bagaimana memulai itu semua. Dengan jalan pikiran sederhana sebagaimana yang digambarkan di atas, semua menjadi mudah. Kita tinggal merealisasikan beberapa agenda sederhana sebagai berikut.

Agenda pertama, misi Rahmatan lil Alamiin diformulasikan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, dalam pengertian bahwa aktivitas Muhammadiyah perlu menyentuh persoalan dasar yang dirasakan masyarakat, dengan arah membantu memecahkan persoalan dasar tersebut. Dengan demikian, adagium bahwa Abad Kedua Muhammadiyah adalah Abad Pemberdayaan Masyarakat, menjadi jelas juntrungannya.

Agenda kedua, lebih bersifat operasional. Seluruh jajaran Muhammadiyah, khususnya Majelis/Lembaga, Ortom Khusus, AMM, Amal Usaha, memformulasikan program dan kegiatan sekaligus merealisasikannya dengan semangat membantu memecahkan masalah dasar masyarakat, sebagaimana secara sederhana diperlihatkan dalam contoh di bagian lain makalah ini.

Agenda ketiga, sebagai konsekuensi dari agenda kedua, seluruh jajaran Muhammadiyah dituntut untuk membangun komitmen yang kuat guna berkhidmat bagi masyarakat lewat persyarikatan Muhammadiyah. Artinya bahwa fikiran maupun tenaga dicurahkan secara sungguh-sungguh bagi pengembangan Muhammadiyah.

Realisasi ketiga agenda ini memberi peluang besar bagi kita untuk menempatkan Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan yang kehadirannya memang dibutuhkan, bukan ”ada atau tidak ya sama saja”.

Skema berikut memperlihatkan jalan pikiran dari tiga agenda sederhana yang dirumuskan di atas.

Skema-2. Dari Misi ke Aksi

Skema-2 di atas sebenarnya memperlihatkan logika perumusan program yang selama ini digunakan Muhammadiyah, jadi bukan barang baru. Hanya saja yang perlu dipikirkan adalah bagaimana arah program aksi itu didekatkan pada usaha untuk membantu memecahkan masalah masyarakat, sebagai implementasi dari misi Rahmatan lil Alamiin.

Sampai di sini kita telah mempercakapkan strategi apa yang dapat digunakan Muhammadiyah untuk merekrut anggota maupun simpatisan Muhammadiyah. Jadi strategi tidak diarahkan langsung pada proses rekrutmen, tapi pada tindakan organisatoris Muhammadiyah yang konsekuensi logisnya bersinggungan kuat dengan proses rekrutmen itu sendiri.

KHATIMAH

Persoalan bagi kita saat ini adalah bagaimana Muhammadiyah itu berjalan; bagaimana mesin organisasi besar ini tetap hidup dengan kecepatan dan percepatan yang tinggi. Ibarat mobil, persnelingnya tidak melulu satu, tapi sudah harus empat atau lima.

Semuanya tentu kembali pada para aktivis Muhammadiyah sendiri. Apakah akan membiarkan mesin organisasi besar ini tidak berjalan lancar dan merata, atau memang ingin agar Muhammadiyah menjadi gerakan yang hidup, dan karena itu mesinnya berjalan cepat dan merata. Kitalah yang menentukan itu kini dan di sini. Hanya Allah yang tahu secara pasti.


** Penulis adalah Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah; Ketua Dewan Direktur Laboratorium Dakwah Yayasan Shalahuddin Yogyakarta; Pengasuh Pondok Pesantren Budi Mulia; Pemimpin Redaksi Jurnal MEDIA INOVASI; Staf Pengajar FAI UMY.

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: