//
you're reading...
AIK IV

Mandi wajib

MANDI
Apabila kamu berjinabat karena mengeluarkan mani (31) atau bertemunya kedua persunatan (32) atau kamu hendak menghadiri shalat Jum’ah (33) atau kamu baru selesai dari Haid (34) atau Nifas (35), maka hendaklah kamu mandi dan mulailah dengan membasuh (mencuci) kedua tanganmu (36) dengan ikhlas niatmu karena Allah (37) lalu basuhlah (cucilah) kemaluanmu dengan tangan kirimu dan gosoklah tanganmu dengan tanah atau apa yang menjadi gantinya (38) lalu berwudlulah seperti yang diatas; kemudian ambillah air dan masukkanlah jari-jarimu pada pangkal rambut dengan sedikit wangi-wangian (39), sesudah dilepaskan rambut-nya (40). Dan mulalilah dengan yang kanan (41), lalu

tuangkan air ke atas kepalamu tiga kali, lalu ratakanlah atas badanmu semuanya mempunyai kitab sunnah)2) (42), serta di gosok (43), kemudian basuhlah (cucilah) kedua kakimu dengan mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri (44), dan jangan berlebih-lebihan dalam menggunakan air (45).

ALasan Dalil

mempunyai kitab sunnah)2)

31 ) لِلآيَةِ (وَاِنْ آُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا) وَلِحَدِيْثِ اِنَّمَا لمَاءُ مِنَ المَاءِ. رَوَاهُ )

مُسْلِمٌ عَنْ اَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِى. وَلِمَا رَوَاهُ اَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَةْ وَالتِّرمِذِىُّ عَنْ

عَلِىٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: آُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً فَسَاَلَتْ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ

وَسَلَّمَ فَقَالَ: فِى المّذِىِّ الوُضُوءُ وَفِى المَنِىِّ الغُسْلُ. وَلِحَدِيْثِ اُمُّ سَلَمَةَ عِنْدَ

البُخَارِىِّ وَمُسْلِمٍ قَالَتْ: يَا رَسُولَ الله اِنَّ الله لاَيَسْتَحْيِى مِنَ الحَقِّ فَهَلْ عَلَى

المَرْاَةِ الغُسْلُ اِذَا احْتَلَمَتْ؟ قَالَ: نَعَمْ اِذَا رَاَتِ المَاءَ

(31) Karena ayat yang tersebut dalam pendahuluan: dan jika kamu junub, maka bersuci mandi)-lah kamu. Dan hadits: “Sesungguhnya air itu dari air.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Sa’id Khudri). Dan hadits dari Ali r.a. berkata: “Adalah aku seorang yang sering mengeluarkan madzi, maka aku bertanya kepada Nabi s.a.w. maka jawabnya:”Keluar madzi harus wudlu, dan keluar mani harus mandi”. (Diriwayatkan oleh Ahmad, lbnu Majah dan Tirmidzi). Dan hadits Ummi Salamah tersebut dalam Bukhari dan Muslim, berkata: “Hai Rasulullah s.a.w., sesungguhnya Allah tidak malu (sungkan) dari suatu kebenaran, apakah wajib mandi bagi wanita kalau bermimpi?”. Beliau menjawab: “Ya, kalau melihat, cairan”.

32 ) لِحَدِيْثِ: اِذَا جَلَسَ بَينَ شُعَبِهَاالاَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيهِ )

الغَسْلُ. اَخْرَجَهُ البُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ وَغَيْرُهُمَا مِنْ حَدِيثِ اَبِى هُرَيْرَةَ

(32) Menurut hadits: “Apabila seorang bersetubuh, maka wajiblah mandi”. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan lain-lainnya dari Abu Hurairah).

33 ) لِحَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ عِنْدَ مُسْلِمٍ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذَا )

اَرَادَ اَحَدُآُمْ اَنْ يَأْتِيَ الجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ.

(33) Karena hadits Ibnu ‘Umar pada riwayat Muslim, Rasulullah s.a.w.bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sekalian akan menghadiri shalat Jum’ah, maka hendaklah mandi”.

35-34 ) لِمَا دَلَّ عَلَى وُجُوبِهِمَا نَصُّ القُرْأَنِ (وَلاَ تَقْرَبُو هُنَّ حَتَّى )

يَطْهُرْنَ, فَاِذَا تَطَهَّرْنَ……). وَلِحَدِيْثِ عَائِشَةَ رَضِىَالله عَنْهَا قَالَتْ: اِنَّ

فَاطِمَةَ بِنْتَ اَبِى حُبَيْشٍ آَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَسَاَلَتِ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَقَالَ: ذَالِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَتْ بِالحَيْضَةِ فَاِذَا اَقْبَلَتِ الحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ.

وَاِذَا اَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِى فَصَلِّى. رَوَاهُ البُخَارِىُّ.
(34-35) Yang menunjukkan wajib mandi dalam keduanya, ialah nas dari Quran, surat Baqarah ayat 222: Dan janganlah kamu mendekati Isteri (yang sedang haid) sehigga bersuci, dan apabila sudah bersuci (mandi)….. Dan hadist dari ‘Aisyah r.a. bahwa Fathimah binti Abi Hubaisy istihadlah, lalu menanyakan kepada Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda: “Itulah darah penyakit, bukan haidl maka kalau kamu berhaidl maka tinggalkanlah shalat dan kalau sudah selesai maka mandilah, lalu shalatlah.” (Diriwayatkan oleh Bukhari).

36 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آَانَ اِذَااغْتَسَلَ مِنَ )

الجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيهِ ثُمَّ يَفْرِغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْتَسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ

يَتَوَضَّأُ وُضُوئَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ المَاءَ وَيُدْخِلَ اَصَابِعَهُ فِى اُصُولِ الشَّعْرِ

حَتَّى اِذَا رَاَى اَنْ قَدْ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ اَفَاضَ عَلَى

سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيهِ. اَخْرَجَه البُخَارِىُّ وَ مُسْلِمٌ.

(36) Karena hadits ‘Aisyah r.a.bahwa Nabi saw. itu apabila mandi karena  junub, ia mulai membasuh kedua tangannya, kemudian menuangkan dengan kanannya pada kirinya, lalu mencuci kemaluannya, lalu berwudlu sebagaimana beliau wudlu untuk shalat; kemudian mengambil air dan memasukkan jari-jarinya di pangkal rambutnya sehingga apabila ia merasa bahwa sudah merata, ia siramkan air untuk kepalanya tiga tuangan, lalu meratakan seluruh badannya;
kemudian membasuh kedua kakinya. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
53

37 ) وَلِحَدِيْثِ: اِنَّمَا الاَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ المُتَقَدِّمِ. ( 38 ) لِحَدِيْثِ مَيْمُونَةَ عِنْدَ )

الشَّيْخَيْنِ ثُمَّ اَفْرَغَ عَلَى فَرْجِهِ وَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ ثُمَّ ضَرَبَ بِهَا الاَرْضَ. وَفِى

رِوَايَةٍ فَمَسَحَهَا بِالتُّرَابِ.

(37) Karena hadits: “Sesungguhnya semua pekerjaan itu dengan niyat, tercantum pada No 2 diatas. (38) Karena menurut hadits Maimunah pada Bukhari dan Muslim: “Kemudian menuangkan air pada kemaluannya dan membasuhnya dengan tangan kirinya, lalu digosokkan tangannya pada tanah”. Dan dalam riwayat lain: “maka ia mengusap tangannya dengan tanah

39 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ آَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَااغْتَسَلَ مِنَ )

الجَنَابَةِ دَعَا بِشَيْئٍ نَحْوَ الحِلاَبِ فَأَخَذَ بِكَفِّهِ بَدَاَ بِشِقِّ رَأْسِهِ الاَيْمَنِ ثُمَّ

الاَيْسَرِ. ثُمَّ اَخَذَ بِكَفَّيْهِ فَقَالَ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ. اَخْرَجَه الشَّيْخَانِ. وَعَنْ

عَائِشَةَ اَنَّ اَسْمَاءَ سَاَلَتِ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِ المَحِيْضِ

فَقَالَ: تَأْخُذُ اِحْدَا آُنَّ مَائَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ

عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيهَا

المَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فُرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتُطَهِّرُبِهَا. الحَدِيْث. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

(39) Lihat hadits ‘Aisyah r.a.: jika Nabi s.a.w. mandi karena janabah, beliau minta suatu wadah, (seperti ember) lalu mengambil air dengan telapak tangannya dan memulai dari sisi kepalanya yang sebelah kanan lalu yang sebelah kiri, lalu mengambil air dengan kedua telapak tangannya, maka ia, membasuh kepalanya dengan keduanya.(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Dan dari hadist ‘Aisyah r.a “Sesungguhnya Asma menanyakan kepada Nabi s.a.w. tentang mandinya orang haidl, maka bersabda s.a.w.: “Ambillah seorang dari kamu sekalian air dan daun bidara, lalu mandilah dengan sebaikbaiknya, lalu curahkan air lagi dari atas kepalanya dan gosok dengan sebaik-baiknya, sehingga sampai ke dasar kepalanya, lalu curahkan air lagi dari atasnya, kemudian ambil sepotong kapas (kain yang diberi minyak kesturi), lalu usaplah dengan kain itu…….seterusnya hadits. (Diriwayatkan oleh Muslim).

40 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا وَآَانَتْ )

حَائِضًا: اُنْقُضِى شَعَرَكِ وَاغْتَسِلِى. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِاِسْنَادٍ صَحِيْحٍ.

(40) Karena hadits ‘Aisyah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda kepadanya padahal dia sedang haidl: “Lepaskanlah rambutmu dan mandilah.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan isnad atau rangkaian yang shahih).

.- 41 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ فِى التَّيَامُنِ المُتَقَدَّمِ فِى- 15 )

42 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 36 -(حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ )

اَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ).

(41) Lihatlah hadits ‘ Aisyah r.a. tersebut nomor 15, yang menerangkan tentang mendahulukan yang kanan.
(42) Menurut hadits ‘Aisyah r.a tersebut nomor 36: menyiram. untuk kepalanya tiga tuangan, lalu menyiramkan air pada semua badannya.

43 ) لِاِفَادَةِ عِبَارَةِ الْآ يَةِ بِالتَّطَهُّرِ الَّتِى تَزِيْدُ عَلَى مُسَمَّى الغُسْلِ. )

44 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 36 – (ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ) وَحَدِيْثِهَا فِى )

التَّيَامُنِ.

45 )لِمَارَوَى اَنَسٍ: آَانَ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ اِلَى )

خَمْسَةِ اَمْدَادٍ, وَيَتَوَضَّاُ بِالمُدِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

(43) Karena arti kata “tathahhur” dalam surat Maidah ayat 6, menegaskan arti lebih dari pada mandi biasa, ialah dengan “gosokan”. (44) Lihatlah hadits ‘Aisyah r.a tersebut nomor 36: (kemudianmembasuh kedua kakinya), dan haditsnya  tentang mendahulukan bagian kanan. (45) Dan haditsnya tentang mendahulukan yang kanan. Menurut hadits
yang diriwayatkan oleh Anas:” Adalah Nabi s.a.w. mandi dengan satu sha’ sampai lima mud dan wudlu dengan satu mud3 ( Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

* Sumber : Himpunan Putusan Tarjih , PP Muhammadiyah*

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: