//
you're reading...
AIK IV

Shalat Fardhu

A. Tata Cara Shalat Fardhu

Bila kamu hendak menjalankan shalat, maka bacalah: “Allahu Akbar (1)dengan ikhlas niyatmu karena Allah (2) seraya  mengangkat kedua belah tanganmu  sejurus bahumu, mensejajarkan ibu jarimu pada daun telingamu (3) Lalu letakkanlah tangan kananmu pada punggung telapak tangan kirimu di atas dadamu (4) lalu bacalah do’a iftitah:”Alla-humma ba-‘id baini-wa baina khatha-yaya kama-ba-‘adta bainal masyriqi wal maghrib. Alla-humma naqqini- minal khatha-ya- kama-yunaqqats tsaubul abyadlu minad danas. Alla-hummaghsil khatha-ya-ya bilma-i wats tsalji wal barad.” (5) atau: “Wajjahtu wajhiya lilladzifatharas sama-wa-ti wal ardla hani-fan musliman wa ma- ana minal musyriki-n. Inna shala-ti wa nusuki- wa mahya-ya wa mama-ti lillahi-hi rabbil ‘a-lami-n. Lasyari- kalahu- wa bidza-lika umirtu wa ana awwalul muslimi-n (wa ana minal muslimi-n.” Alla-humma antal maliku la-ila-ha illa-anta, anta rabbi- wa ana ‘abduka, dlalamtu nafsi- wa’taraftu bidzambi- fagh firli- dzunu-bi- jami-‘an. Layagh firudz dzunu-ba illa- anta, wah dini-liahsanil akhla-qi la-yahdil liahsanihailla- anta. Washrif ‘anni- sayyiaha- la-yashrifu ‘anni- sayyiaha- illa- anta. Labbaika wa sa’daika wal khairu kulluhu- fi-yadaika, wasysyarru laisa ilaika. Ana bika wa ilaika. Taba-rakta wa ta’a-laita astaghfiruka wa atu-bu ilaika.”(6) Lalu berdo’a mohon perlindungan dengan membaca: “A’u-dzu billa-hi minasy syaitha-nir raji-m” (7) dan membaca: “Bismilla-hirrahmani-nirrahi-m” (8) lalu bacalah surat al-Fatihah (9) dan berdo’alah sesudah itu :a-mi-n” (10) Kemudian bacalah salah satu surat daripada al-Qur’an (11) dengan diperhatikan
artinya dan dengan perlahan-lahan (12) Kemudian angkatah kedua belah tanganmu seperti dalam takbir permulaan (13) lalu ruku’lah (14) dengan bertakbir (15) seraya melempangkan (meratakan) punggungmu dengan lehermu, memegang kedua lututmu dengan dua belah tanganmu (16) , sementara itu berdo’a: “Subha-nakalla-humma rabbana- wa 63bihamdikalla-hummaghfirli.” (17), atau berdo’alah dengan salah satu do’a dari Nabi saw. (18) Kemudian angkatlah kepala untuk i’tidal (19) dengan mengangkat
kedua belah tanganmu seperti dalam takbiratul ihram dan berdo’alah: “Sami’allahu liman haidah” dan bila sudah lurus berdiri berdo’alah: “Rabbana- wa lakalhamd” (20). Lalu sujudlah (21) dengan bertakbir (22) letakkanlah kedua lututmu dan jari kakimu di atas tanah, lalu kedua tanganmu, kemudian dahi dan hidungmu (23) dengan menghadapkan ujung jari kakimu ke arah Qiblat serta merenggangkan tanganmu daripada kedua lambungmu dengan mengangkat sikumu (24). Dalam bersujud itu hendaklah kamu berdo’a: “Subha-nakalla-humma rabbana- wa bihamdikalla-hummaghfirli.” (25) atau berdo’alah dengan salah satu do’a daripada Nabi saw. (26). Lalu angkatlah kepalamu dengan bertakbir dan duduklah tenang dengan berdo’a: “Alla-hum maghfirli- warhamni- wajburni- wahdini- warzuqni-” (27). Lalu sujudlah kedua kalinya dengan bertakbir dan membaca “tasbih” seperti dalam sujud yang pertama. Kemudian angkatlah kepalamu dengan bertakbir (28) dan duduklah sebentar, lalu berdirilah untuk raka’at yang kedua dengan menekankan (tangan) pada tanah (29) Dan kerjakanlah dalam rakaat yang kedua ini sebagaimana dalam raka’at yang pertama, hanya tidak membaca do’a iftitah (30). Setelah selesai dari sujud kedua kalinya, maka duduklah di atas kaki kirimu dan tumpukkan kaki kananmu serta letakkanlah kedua tanganmu di atas kedua lututmu. Julurkanlah jari-jari tangan kirimu, sedang tangan kananmu menggenggam jari kelingking, jari manisdan jari tengah serta mengacungkan jari telunjukmu dan sentuhkan ibu jari pada jari tengah (31). Duduk ini bukan dalam raka’at akhir. Adapun duduk dalam raka’at akhir maka caranya memajukan kaki kiri, sedang kaki kanan bertumpu dan dudukmu bertumpukan pantatmu (32) Dan bacalah tasyahud begini “attahiyya-tu  lilla-h washshalawa-tu waththayyiba-t, assala-mu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu wa
rahmatulla-hi wa baraka-tuh. Assala-mu ‘alaina wa ‘ala- ‘iba-dilla-hish sha-lihin. Asyahadu alla- ila-ha illalla-h wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu- wa rasuluh (33)Lalu bacalah shalawat pada Nabi saw.: “Alla-humma shalli ‘ala-
Muhammad wa ‘ala- a-li Muhammad, kama- shallaita ‘ala- Ibrahi-m wa a-li Ibrahim,
wa ba-rik ‘ala- Muhammad wa a-li Muhammad, kama- ba-rakta ‘ala- Ibrahim wa a-li Ibra-him, innaka hami-dum maji-d.(34) Kemudian berdo’alah kepada Tuhanmu, sekehendak hatimu yang lebih pendek daripada do’a dalam tasyahhud akhir (35)
Kemudian berdirilah untuk raka’at yang ketiga kalau shalatmu itu tiga atau empat raka’at, dengan bertakbir mengangkat tanganmu (36) dan kerjakanlah dalam dua raka’at yang akhir atau yang ketiga, seperti dalam dua raka’at yang
pertama, hanya kamu cukup membaca Fatihah saja (37). Dan sesudah raka’at yang akhir, bacalah tasyahhud serta shalawat kepada Nabi saw., lalu hendaklah berdo’a mohon perlindungan dengan membaca: “Alla-humma inni- a’udzu bika min ‘adza-bi jahannama wa min ‘adza-bil qabri wa min fitnatil mahya- wal mama-ti wa min syarri fitnatil masi-hid dajja-l (38) Kemudian bersalamlah dengan berpaling ke kanan dan ke kiri, yang pertama sampai terlihat pipi kananmu dan yang kedua sampai terlihat pipi kirimu oleh orang yang dibelakangmu (39) sambil membaca: “Assalamu’alaikum wa
rahmatulla-hi wa baraka-tuh.”(40)
Jika shalatmu dua raka’at, maka letak do’a isti’adzah (a’udzubilla-h) setelah
nembaca “shalawat kepada Nabi”, sesudah raka’at yang kedua, lalu bersalamlah
sebagai yang tersebut (41).
.( مُلاَحَظَةٌ: وَلاَ فَرْقَ بَينَ الرَّجُلِ وَالمَرْاَةِ فِى هَذِهِ الكَيْفِيَّةِ ( 44
Perhatian: Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam cara melakukan
shalat sebagai yang tersebut di atas (44)
ALASAN (DALIL)
1) لِحَدِيْثِ اَبِى دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِىِِّ بِاِسْنَادٍ صَحِيحٍ: مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الوُضُوءُ )
وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيْرُ وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيمُ. وَحَدِيْثُ ابْنِ مَاجَه وَصَحَّحَهُ ابْنِ
خُزَيْمَةَ وَابْنِ حِبَّانَ مِنْ حَدِيْثِ حُمَيْدِ السَّاعِدِىِّ قَالَ: آَانَ رَسُولُ الله صلعم
اِذَا قَامَ اِلَى الصَّلاَةِ وَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ: “اللهُ اَآْبَرُ”. وَلِحَدِيْثِ:
اّضَا قُمْتُ اِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ. الحَدِيْثُ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ)
(1) Menurut hadis shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi:
“Kunci (pembuka) shalat itu wudlu, permulaannya takbir dan penghabisannya
salam”. Dan hadis shahih dari Ibnu Majah yang dishahihkan oleh Ibnu
Khuzaimah dan Ibnu Hibban dari hadis Abi Humaid Sa’idi bahwa Rasulullah,
jika shalat ia menghadap ke Qiblat dan mengangkat kedua belah tangannya
dengan membaca “Allahu Akbar”. Dan menurut hadis:”Bila kamu
menjalankan shalat, takbirlah …” seterusnya hadis (Diriwayatkan oleh al-
Bukhari dan Muslim)
.( 2) قَوْلِهِ تَعَالَى: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (البيّنة: 5 )
وَلِحَدِيْثِ: اِنَّمَا الاَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. الحَدِيْثِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ)
(2) Menilik firman Allah:”Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya
menyembah kepada Allah dengan ikhlas kepadaNya daam menjalankan
Agama”. (al-Bayyinah:6). Dan menurut hadis:”Sesungguhnya (shahnya) amal
itu tergantung kepada niyat.” (Diriwayatkan oeh al-Bukhari dan Muslim)
3) لِحَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ رض اَنَّ النَّبِىِّ صلعم آَانَ يَرْفَعُ يَدَيهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ )
اِذَا افْتَتَحَ ال  صلاَةَ وَاِذَا آَبَّرَ لِلرُّآُوعِ وَاِذَا رَفَعَ رَاْسَهُ مِنَ الرُّآُوعِ رَفَعَهُمَا
آَذَالِكَ وَقَالَ “سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ” وَآَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَالِكَ فِى
السُّجُودِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ). وَ فِى صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ مَالِكِ ابْنِ الحُوَيرِثِ اَنَّ
رَسُولُ الله صلعم آَانَ اِذَا آَبَّرَ رَفَعَ يَدَيهِ حَتَّى يُحَاذِىَ بِهِمَا اُذُنَيْهِ وَاِذَا رَفَعَ
رَاْسَهُ مِنَ الرُّآُوعِ فَقَالَ: (سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) فَعَلَ مِثْلَ ذَالِكَ,-وَفِى رِوَايَةِ
اُخْرَىعَنْ وَائِلٍ عِنْدَ اَبِى دَاوُدَ بِلَفْظِ: حَتَّى آَانَتَا حِيَالَ مَنْكِبَيهِ وَحَاذَ بِاِبْهَامَيهِ
( اُذُنَهُ (قَالَهُ فِى الفَتْحِ ج 2ص 150
67
(3) Menurut hadis Ibnu Umar bahwa Nab saw. Mengangkat kedua tangannya
selurus ahunya bila ia memulai shalat, bila takbir hendak ruku’ dan bila
mengangkat kepalanya dari ruku’ ia mengangkat kedua tangannya juga dengan
mengucapkan “Sami’alla-hu liman hamidah rabbana- wa lakalhamd”. Dan
tidak menjalankan demikian itu dalam (hendak) sujud”. (Diriwayatkan oleh al-
Bukhari dan Muslim). Tersebut dalam shahih Muslim dari Malik bin
Huwarits, bahwa Rasulullah saw. apabila takbir ia mengangkat kedua
tangannya sampai sejajar pada telinganya, begitu juga bila hendak ruku’, dan
bila mengangkat kepalanya dari ruku’ lalu mengucapkan:”Sami’alla-hu liman
hamidah”, ia mengerjakan dsemiian juga. Dan dalam hadis riwayat Abu
Dawud dari Wail dengan kalimat:” sehingga kedua tangannya itu selempang
dengan bahunya serta ibu jarinya sejajar dengan telinganya”.(Tersebut dalam
kitab Tah juz II halaman 150)
ى 􀑧 دَهُ اليُمْنَ 􀑧 عَ يَ 􀑧 لعم وَوَضَ 􀑧 ولُ الله ص 􀑧 عَ رَسُ 􀑧 لَّيتُ مَ 􀑧 ا لَ: صَ 􀑧 4) لِحَدِيْثِ وَائِلٍ قَ )
ى 􀑧 حِيحِ هِ. وَ فِ 􀑧 ى صَ 􀑧 ةَ فِ 􀑧 نُ خُزَيمَ 􀑧 دْرِ هِ. رَوَاهُ ابْ 􀑧 ى صَ 􀑧 رَى عَلَ 􀑧 دَهِ اليُسْ 􀑧 ى يَ 􀑧 عَلَ
هِ 􀑧 رِ آَفِّ 􀑧 ى ظَهْ 􀑧 ى عَلَ 􀑧 حَدِيْثِ وَائِلٍ عِنْدَ اَبِى دَاوُدَ وَالنَّسائِىِّ: ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَ
ى 􀑧 لُهُ فِ 􀑧 رُهُ وَاَصْ 􀑧 ةَ وَغَيْ 􀑧 نُ خُزَيمَ 􀑧 حَّحَهُ اِبْ 􀑧 اعِ دِ, وَصَ 􀑧 غِ وَالسَّ 􀑧 رَى, وَالرُّسْ 􀑧 اليُسْ
ارِىِّ 􀑧 ى البُخَ 􀑧 تْحِ (ج 2ص 152 ). وَفِ 􀑧 ى الفَ 􀑧 هُ فِ 􀑧 ادَةِ قَالَ 􀑧 صَحِيحِ مُسْلِمٍ بِدُونِ الزِّيَ
ى 􀑧 دَهُ اليُمْنَ 􀑧 لُ يَ 􀑧 عَ الرَّجُ 􀑧 ؤْمَرُونَ اَنْ يَضَ 􀑧 عَنْ سَهْلِ ابْنُ سَعْدٍ قَالَ: آَانَ النَّاسُ يُ
عَلَى ذِرَاعِهِ.
(4) Menilik hadis shahih dari Wail yang berkata:”Saya shalat bersama Rasulullah
saw. dan beliau meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya di atas
dadanya”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dishahihkannya). Dan
hadis dari Wail juga menurut riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’I “Lalu beliau
meletakkan tangan kanannya pada punggung telapak tangan kirinya, serta
pergelangan dan lengannya”. (Hadis ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan
lainnya, sedang asalnya dalam shahih Muslim, dengan tidak ada tambahannya,
sebagaimana yang tersebut dalam kitab Fath juz II halaman 152). Dan tersebut
dalam al-Bukhari dari Sahl bin Sa’ad yang berkata:”Bahwa orang-orang
diperintah supaya meletakkan tangan kanannya pada lengannya.”
5) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ رض فِى ذَالِكَ (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ). )
68
(5) Menurut hadis Abu Hurairah tentang bacaan itu (Diriwayatkan oleh al-
Bukhari dan Muslim)
6) لِحَدِيْثِ عَلِىٍّ رض فِى ذَالِكَ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى صَحِيحِهِ). )
(6) Mengambil dari hadis “Ali ra. tentang bacaan itu. (Diriwayatkan oleh Muslim
dalam Shahihnya).
7) لِقَولِهِ تَعَالَى: ” فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ )
(النّحل: 98 ) وَلِمَا رَوَى اَبُو سَعِيدٍ الخُدْرِىِّ رض اَنَّ النَّبِىِّ صلعم آَانَ
يَقُولُ ذَالِكَ اَى “اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ” (قَالَ لَهُ فِى المُهَذَّبِ). وَ
قَالَ ابْنُ المُنْذِرِ: جَاءَ عَنِ النَّبِىِّ صلعم اَنَّهُ آَانَ يَقُولُ قَبْلَ القِرَاءَةِ ” اَعُوذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ” (آَمَا وَرَدَ فِى نَيْلِ الاَوْطَارِ فِى الجُزْءِ الثَّانِى).
(7) Menilik bunyi al-Qur’an surat an- Nahl ayat 98:”Apabila kamu akan membaca
al-Qur’an hendaklah kamu mohon perlindungan kepada Allah dari Syetan
yang terkutuk”. (berdo’a: “A’u-dz billa-hi minasy Syaitha-nir raji-m”). Dan
menurut hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Nabi saw.
adalah membaca ta’awwudz itu (sebagai yang tersebut dalam kitab
Muhadzdzab). Ibnul Mundzir berkata: Bahwa diceritakan dari Nabi saw.
bahwa sebelum membaca al-Qur’an beliau berdo’a:”A’u-dzu billa-hi minasy
Syaitha-nir raji-m”. (Tersebut dalam kitabNailul Authar juz II).
8) وَلِحَدِيْثِ نُعَيْمٍ لِلجُمْرِ قَالَ: صَلَّيْتُ وَرَاءَ اَبِى هُرَيرَةَ رض فَقَرَأَ ” بِسْمِ )
الله الرَّحْمَنِ الرَّحيْمِ” ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ القُرْآنِ حَتَّى بَلَغَ “وَلاَ الضّآلِّينَ” فَقَالَ:
آمِينَ, وَقَالَ النَّاسُ ” آمِينَ”. وَيَقُولُ آُلَّمَا سَجَدَ “اللهُ اَآْبَرُ” وَاِذَا قَامَ مِنَ
الجُلُوسِفِى الاِثْنَتَيْنِ قَالَ: “اللهُ اَآْبَرُ” وَيَقُولُ اِذَا سَلَّمَ: وَالَّذِى نَفْسَى بِيَدِهِ اِنِّى
لَاَسْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ اللهِ صلعم. (رَوَاه النَّسائِىُّ وَابْنُ خُزَيمَةَ وَالسِّرَاجُ
وَابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُمْ, قَالَ فِى الفَتْحِ (ج 2ص 181 ) وَهُوَ اَصَحُّ حَدِيْثٍ وَرَدَ
فِى ذَالِكَ). لِحَدِيْثِ عُبَادَةَ بْنُ الصَّامِتِ رض اَنَّ رَسُولِ اللهِ صلعم قَالَ:
لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَ يَقْرَأُ بَفَاتِحَةِ الكِتَابِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ).
(8) Mengingat hadis dari Nu’aim al-Mujmir, katanya: “Saya shalat di belakang
Abu Hurairah ra. maka ia membaca “Bismilla-hirrahma-nirrahi-m” lalu
membaca induk al-Qur’an (surat al-Fatihah) sehingga tatkala sampai pada “wa
ladldla-lli-n” beliau membaca “a-mi-n” dan orang-orangpun sama membaca
69
“a-mi-n”. Begitu juga tiap-tiap hendak sujud, mengucapkan:”Alla-hu Akbar”
dan bila berdiri dari duduk dalam raka’at kedua beliau mengucapkan: “Alla-hu
Akbar”. Setelah bersalam beliau berkata:”Demi Yang menguasai diriku,
sungguh shalatku yang mengerupai dengan shalatnya Rasulullah saw.”(HR
oleh an-Nasa’I, Ibnu Khuzaimah, Siraj, Ibnu Hibban dan lainnya; tersebut
dalam kitab al-Fath Juz II halaman 181, dengan katanya bahwa inilah hadis
yang paling shah, tentang hal yang disebut).
9)لِحَدِيْثِ عُبَادَةَ بْنُ الصَّامِتِ رض اَنَّ رَسُولِ اللهِ صلعم قَالَ: لاَصَلاَةَ )
لِمَنْ لاَ يَقْرَأُ بَفَاتِحَةِ الكِتَابِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ). وَلِحَدِيْثِ عُبَادَةَ قَالَ: صَلَّى
رَسُولِ اللهِ صلعم الصُّبْحُ فَثَقُلَتْ عَلَيهِ القِرَاءَةَ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: اِنِّى
اَرَاآُمْ تَقْرَؤُنَوَرَاءَ اِمَامِكُمْ. قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولِ اللهِ اِى وَاللهِ, قَالَ: لاَتَفْعَلُ
اِلاَّ بِاُمِّ القُرْآنِ. (رَوَاهُ اَحْمَدُ وَالدَّارُ قُطْنِىُّ وَالبَيحَقِىِّ).وَلِمَا رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ
مِنْ حَدِيْثِ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولِ اللهِ اِى وَاللهِ صلعم: اَتَقْرَؤْنَ فِى صَلاَتِكُمْ
خَلْفَ الاِمَامُ يَقْرَأُ فَلاَ تَفْعَلُوا وَلْيَقْرَأْ اَحَدُآُمْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ فِى نَفْسِهِ.
(9) Mengingat hadis ‘Ubadah bin as-Shamit bahwa Rasululllah saw. bersabda:
“Tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca permulaan Kitab (al-
Fatihah)”. (Driwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim). Ada lagi hadis ‘Ubadah
bahwa Rasulullah saw. shalat shubuh maka merasa terganggu oleh
pembacaan ma’mum. Setelah selesai beliau bersabda: “Aku melihat kamu
sama membaca di belakang imammu? ” Kata ‘Ubadah, bahwa kita semua
menjawab: “Ya Rasulullah, demi Allah benar begitu!” Maka sabda Nabi:
“Janganlah kamu mengerjakan demikian, kecuali bacaan Fatihah.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, ad-Daruquthni dan al-Baihaqi). Dan mengingat
hadis anas, katanya bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apakah kamu sekalian
membaca dalam shalatmu di belakang imammu, padahal imam sedang
membaca? Janganlah kamu mengerjakannya, hendaklah masing-masing kamu
membaca Fatihah sekedar didengar olehnya sendiri”. (Diriwayatkan oleh Ibnu
Hibban)
10 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ رض اَنَّ النَّبِىَّ صلعم قَالَ: اِذَا امَّنَ الاِمَامُ فَاَمِّنُوا )
فَاِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِيْنُهُ تَأْمِيْنَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَعَنْهُ اَيْضًا
70
اَنَّ رَسُولِ اللهِ صلعم قَالَ: اِذَا قَالَ اَحَدُآُمْ آمِيْنَ فَوَاقَفَ اِحْدَاهُمَا الاُخْرَى
غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ). وَفِى رِوَايَةِ مُسْلِمٍ: اِذَا قَالَ اَحَدُآُمْ فِى
صَلاَتِهِ.
(10) Mengingat hadis Abu Huraerah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Apabila
imam membaca “A-mi-n” maka kamu hendaklah pula membaca “A-mi-n”
karena sungguh barang siapa yang bacaan “a-mi-n” nya bersamaan “A-mi-n”
Malaikat, tentulah diampuni dosanya yang telah lalu”. Dan hadis dari Abu
Huraerah juga, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang
diantaramu membaca “A-mi-n” sedang Malaikat di langitpun membaca “Ami-
n” pula, dan bersamaan keduanya, maka diampunilah ia dari dosanya
yang sudah-sudah.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan dalam
hadis riwayat Muslim ada tambahannya: “Apabila salah seorang diantaramu
membaca dalam shalatnya).”
11 ) حَدِيْثِ ابْنِ قَتَادَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صلعم آَانَ يَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ فِى الاُولَيَينِ )
بِأُمِّ الكِتَابِ وَسُورَتَينِ وَفِى الرَّآْعَتَينِ الاُخْرَيَينِ بِأُمِّ الكِتَابِ وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ
وَيُطَوِّلُ فِى الرَّآْعَةِ الاُولَى مَالاَ يُطِيلُ فِى الرَّآْعَةِ الثَّانِيَةِ وَهَكَذَا فِى الصُّبْحِ
(مُتَّفَقٌ عَلَيهِ)
(11) Menilik hadis Abu Qatadah bahwa Nabi saw. dalam shalat Dluhur pada
rakaat kedua permualaan (rakaat ke1 dan ke 2, membaca induk Kitab
(Fatihah) dan dua surat, serta pada dua rakaat lainnya (rakaat ke 3 dan ke 4)
membaca Fatihah saja, dan beliau memperdengarkan kepada kami akan
bacaan ayat itu, dan pada rakaat ke 1 diperpanjang tidak seperti dalam rakaat
ke 2; demikian juga dalam shalat ashar dan shubuh. (Diriwayatkan oleh al-
Bukhari dan Muslim)
12 ) لِقَولِهِ تَعَالَى: أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (محمّد: )
( 24 ) لِقَولِهِ تَعَالَى: وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا (المزمّل: 4
71
(12) Karena firman Allah swt. “Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an,
ataukah pada hati mereka ada tutupnya?” (Muhammad 24). Dan firmannya:
Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (Muzammil 5)
.- 13 ) لِحَدِيْثِ ابْنِ العُمَرَ المُتَقَدَّمِ فِى – 3 )
(13) Karena hadis Ibnu Umar tersebut nomor 3 di atas
14 ) لِقَولِهِ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْآَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ )
.( وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(الحجّ: 77
(14) Karena firman Allah: “Hai orang-orang mu’min, hendaklah kamu ruku’,
sujud dan sembahlah Tuhanmu serta berbuatlah kebaikan, agar kamu
berbahagia.”(Hajj 77)
وَلِخَبَرِ أَبِيْ هُرَيَةَ رض النّبِىَّ صلعم الَ: اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ
مَاتَيَسَّرَ مِنَ القُرْآنِ ثُمَّ ارْآَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاآِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا
ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى
تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَالِكَ فِى صَلاَتِكَ آُلِّهَا. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ).
Dan menurut hadis dari Abu Huraerah ra. bahwa Nabi saw.
bersabda:”Apabila kamu menjalankan shalat bertakbirlah, lalu membaca
sekedar dari al-Qur’an, lalu ruku’ sehingga tenang, (tuma’ninah), terus berdiri
sampai lurus, kemudian sujud sehingga tenang, kemudian duduklah sampai
tenang, lalu sujud lagi sehingga tenang pula; kemudian lakukanlah seperti
itu dalam semua shalatmu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
15 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ رض قَالَ: آَانَ رَسُولِ اللهِ اِى وَاللهِ صلعم اِذَا )
قَامَ اِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرْ حِينَ يَقُومُ يُكَبِّرْ حِينَ يَرْآَعُ ثُمَّ يَقُولُ.”سَمِعَ اللهُ لِمَنْ
حَمِدَهُ” حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرُّآُوعِ ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمًا “رَبَّنَا وَلَكَ
الحَمْدُ” ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِى جَالِسًا ثُمَّ يُكَبِّرْ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يُكَبِّرْ حِينَ
يَسْجُدُ ثُمَّ يُكَبِّرْ حِينَ يَرْفَعُ ثُمَّ يَفْعَلْ ذَالِكَ فِى الصَّلاَةَِ آُلِّهَا يُكَبِّرْ حِينَ يَقُوْمُ
مِنَ الثِّنْتَينِ بَعْدَ الجُلُوسِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ).
(15) Karena hadis Abu Huraerah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. kalau
shalat ia bertakbir ketika berdiri, lalu bertakbir ketika ruku, lalu membaca
“sami’alla-hu liman hamidah” ketika mengangkat punggungnya (bangun)
dari ruku, lalu membaca selagi beliau berdiri:”Rabbana- walakal hamd”, lalu
72
takbir tatkala hendak sujud, lalu bertakbir tatkala hendak mengangkat kepala
(duduk antara dua sujud), lalu bertakbir tatkala hendak mengangkat kepala
(duduk antara dua sujud), lalu bertakbir tatkala hendak berdiri; kemudian
melakukan itu dalam smua shalatnya serta bertakbir tatkala berdiri dari
rakaat yang kedua sesudah duduk. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan
Muslim)
-16 لِحَدِيْثِ اَبِى حَمِيدِ السَّاعِدِىِّ رض قَالَ: اَنَا آُنْتُ اَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ
رَسُولِ اللهِ صلعم رَاَيْتُهُ اِذَا آَبَّرَ جَعَلَ يَدَيهِ حَذْوَ مَنْكِبَيهِ وَاِذَا رَآَعَ اَمْكَنَ
يَدَيَهِ مِنْ رُآْبَتَيهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَاِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ آُلُّ
فَقَارٍ مَكَانَهُ فَاِذَا سَجَدَ وِصَعَ يَدَيهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَاوِاسْتَعْبَلَ
بِاَطْرَافِ اَصَابِعِ رِجْلَيْهِ القِبْلَةَ فَلِذَا جَلَسَ فِى الرَّآْعَتَينِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ
اليُسْرَى وَنَصَبَ الاُخْرَى. وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ. (رَوَاهُ البُخَارِىُّ فِى
صَحِيحِهِ).
(16) Karena hadis dari Abu Humid Sa’idi ra. yang berkata: “Saya lebih cermat
(hafal) dari padamu tentang shalat Rasulullah saw. Kulihat apabila beliau
bertakbir, mengangkat kedua tangannya sejurus dengan bahunya dan apabila
ruku’ meletakkan kedua tangannya pada lututnya, lalu membungkukkan
punggungnya, lalu apabila mengangkat kepalanya ia berdiri tegak sehingga
luruslah tiap tulang-tulang punggungnya seperti semula; lalu apabila sujud,
ia letakkan kedua teapak tangannya pada tanah dengan tidak meletakkan
lengan dan tidak merapatkannya pada lambung, dan ujung-ujung jari
kakinya dihadapkan ke arah Qiblat. Kemudian apabila duduk pada raka’at
yang kedua ia duduk di atas kaki kirinya dan menumpukkan kaki yang
kanan. Kemudian apabila duduk pada raka’at yang terakhir ia majukan kaki
kirinya dan menumpukkan kaki kanannya serta duduk bertumpu pada
pantatnya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhrai daam kitab Shahihnya)
17 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: آَانَ رَسُولِ اللهِ صلعم يَقُولُ فِى رُآُوعِهِ )
وَسُجُودِهِ “سُبْحَانَكَ”. الحديث. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ).
73
(17) Menilik hadits Sayyidatina ‘Aisyah ra. menceritakan, bahwa Rasulullah saw.
dalam ruku’ dan sujudnya beliau mengucapkan; subha-nakalla-humma
rabbana- wa bihamdikalla-hummagh firli- …. Seterusnya hadits.
(Muttafaqun ‘Alaih atau diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
18 ) لِحَدِيْثِ خُذََيْفَةَ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىُّ صلعم فَكَانَ يَقُولُ فِى رُآُوعِهِ )
“سُبْحَانَكَ رَبِّىَ العَظِيمِ” وَفِى سُجُودِهِ ” سُبْحَانَكَ رَبِّىَ الاَعْلَى” (الحديث
رواه الخمسة وصحّحه التّرمذى). وَحَدِيْثِ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُولِ اللهِ
صلعم آَانَ يَقُولُ فِى رُآُوعِهِ وَسُجُودِهِ “سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ المَلاَئِكَةِ
وَالرُّوحِ”. (رواه أَحْمَدُ وَ مُسْلِمٌ وَ اَبُو دَاوُدَ وَ النَّسائِىُّ-آِلاَهُمَا فِى نَيلِ
الاَوطَارِ الجُزْءُ الثَّانِى مِنْهُ).
(18) Menurut hadis Hudzaifah, katanya: “Aku bershalat bersama Nabi saw.,
maka dalam ruku’nya beliau membaca: “Subha-na rabbiyal adhim” dan
dalam sujudnya beliau membaca “Subha-na Rabbiyal a’la.” … seterusnya
hadits. (Diriwayatkan oleh lima ahli hadits dan dishahihkan oleh at-
Tirmidzi). Dan ada lagi hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad , Muslim,
Abu Dawud dan an-Nasa’I dari ‘Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. dalam
ruku’ dan sujudnya membaca; “Subbu-hun quddu-sun rabbul Mala-ikati war
ru-h”. (Kedua hadits ini tersebut dalam kitab Nailul Authar juz 2)
– 19 ) لِخَبَرِ اِذَ…المُتَقَدَّمِ فِى- 14 )
(19) Lihat hadits Abu Hurairah tersebut no. 14 di atas
– 20 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 15 )
(20) Lihat hadits Abu Hurairah tersebut nomor 15 di atas.
– 20 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 15 )
(21) Menurut ayat dan hadits dalam dalil nomor 14.
– 22 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 15 )
(22) Lihat hadits Abu Hurairah tersebut nomor 15 di atas.
(23) Menurut hadits dari Ibnu ‘Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah saw.
bersabda: “Aku diperintah supaya bersujud di atas tujuh tulang: dahi –
seraya menunjuk pada hidungnya – di atas dua belah tangan, kedua lutut dan
di atas kedua ujung kaki.” (Muttafaq ‘Alaih). Ada lagi hadits dari Wail bin
Hajur, katanya: “Aku melihat Rasulullah saw. bila bersujud meletakkan
kedua lutut sebelum kedua tangannya dan kalau berdiri mengangkat kedua
tangannya sebelum kedua lututnya”. (Diriwayatkan oleh lima imam kecuali
Ahmad, sebagaimana yang tersebut dalam kitab Nailul Authar).
Dan menurut hadits dari Abu Hurairah ra. yang mengatakan bahwa
Rasulullah saw. bersabda: “Kalau salah seorang daripadamu bersujud, maka
janganlah berdekam sebagaimana unta berdekam, ialah meletakkan
tangannya sebelum lututnya”. (Tersebut dalam kitab Taisirul Wushul)
24 ) لِحَدِيْثِ اَبِى حُمَيدِ المُتَقَدَّمِ فِى- 16 -وَ لِحَدِيْثِ عَبْدِالله بْنُ مَالِكِ بْنِ )
بُحَينَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صلعم آَانَ اِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَينَ يَدَيهِ حَتَّى يَبْدُ وَبَيَاضُ
اِبْطَيهِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ). وَفِى صَحِيحِ مُسِلِمٍ اَنَّ رَسُولِ اللهِ صلعم آَانَ اِذَا
سَجَدَ فَرَّجَ يَدَيهِ عَنْ اِبْطَيهِ حَتَّى اِنِّى لَاَرَى بَيَاضَ اِبْطَيهِ. وَفِيهِ اَيضًا عَنِ
البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولِ اللهِ صلعم: اِذَا سَجَدَتْ فَضَعْ آَفَّيكَ
وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ.
(24) Lihatlah hadits Abi Humaid tersebut nomor 16. Dan mengingat hadits dari
Abdullah bin Malik bin Buhainah, bahwa Nabi saw. jika shalat
merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih ketiaknya.
(Muttafaq ‘Alaih atau diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam
shahih Muslim, bahwa Rasulullah saw. jika bersujud merenggangkan kedua
tangannya dari ketiaknya, sehingga kulihat putih ketiaknya.Dan hadits dari
al-Barra’ bin ‘Azib dalam shahih Muslim juga, bahwa Rasulullah saw.
bersabda: “Bila kamu bersujud, letakkanlah kedua belah telapak tanganmu
dan angkatlah kedua sikumu”.
75
– 25 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 17 )
(25) Lihatlah hadits ‘Aisyah tersebut nomor 17 di atas.
– 26 ) لِحَدِيْثَى حُذََيفَةَ وَ عَائِشَةَ المُتَقَدَّمَينِ فِى- 18 )
(26) Menilik hadits udzaifah dan ‘Aisyah ra. tersebut nomor 18 di atas.
27 ) لِمَا رُوِىَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِىَّ صلعم آَانَ يَقُولَ بَينَ السَّجْدَتَينِ: )
“اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَاهْدَنِى وَارْزُقْنِى” (رَوَاهُ التِّرمِذِىُّ
آَمَا فِى نَيلِ الاَوْطَارِ).
(27) Mengingat hadits yang diriwayatkan oleh at-tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas ra.
bahwa Nabi saw. di antara kedua sujud mengucapkan; “Alla-hummagh firliwarhamni-
wajburni- wahdini- war zuqni-“. (Tersebut dalam kitab Nailul
Authar).
28 ) لِحَدِيْثِ اَبِىهُرَيرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 14 -لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ فِى- 17 -لِلحَدِيْثِ )
– المُتَقَدَّمَينِ فِى- 18
(28) Periksalah hadits Abu hurairah tersebut nomor 14, hadits ‘Aisyah ra. tersebut
nomor 17 dan kedua hadits tersebut nomor 18 di atas.
29 ) لِحَدِيْثِ مَالِكِبْنِ الحُوَيرِثِ رض اَنَّهُ رَوَى النَّبِىَّ صلعم يُصَلِّى فَاِذَا )
آَانَ فِى وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِىَ قَاعِدًا. (رَوَاهُ البُخَارِىُّ
فِى صَحَيْحِهِ). وَفِى لَفْظٍ لَهُ: فَاِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ
وَاعْتَمَدَ عَلَى الاَرْضِ ثُمَّ قَامَ.
(29) Menilik hadits dari Malik bin Huwairits mengatakan bahwa ia mengetaui
Nabi saw. shalat; maka apabila beliau berada dalam raka’at gasal (ganjil,
Jawa) dari shalatnya, beliau sebelum berdiri, duduk dahulu sehingga lurus
duduknya. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam shahihnya).
Ada lain hadits oleh al-Bukhari juga, apabila beliau mengangkat kepalanya
dari sujud yang kedua , duduk dan menekan kepada tanah, lalu berdiri.
30 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ المُتَقَدَّم فِى- 14 -وَلَهُ فِى صَحَيحِ مُسْلِمٍ: آَانَ )
رَسُولِ اللهِ صلعم اِذَا نَهَضَمِنَ الرَّآْعَةِ الثُّانِيَةِ اسْتَفْتَحَ القِرَاءَةَ بِالحَمْدِ للهِ
رَبِّ العَالَمِينَ وَلَمْ يَسْكُتْ.
(30) Periksalah hadits Abu hurairah tersebut nomor 14. Dan tersebut dalam
Shahih Muslim dari Abu Hurairah juga bahwa jikalau Rasulullah saw.
76
berdiri dari raka’at kedua, beliau tidak diam, melainkan memulai bacaan
dengan: “Alhamdulillahi rabbil ‘a-lami-n”.
31 ) لِحَدِيْثِ اَبِى حُمَيدٍ السَّاعِدِىِّ المُتَقَدَّمِ فِى- 16 -وَلِمَا فِى صَحِيحِ مُسْلِمٍ )
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض اَنَّ رَسُولِ اللهِ صلعم آَانَ اِذَا قَعَدَ فِى التَّشَهُّدِ وَضَعَ
يَدَهُ اليُسْرَى عَلَى رُآْبَتِهِ اليُمْنَى وَعَقَدَ ثَلاَثًا وَخَمْسِينَ وَاَشَارَ بِاَصْبُعِهِ
السَّبَّابَةِ. وَفِيْهِ اَيْضًا عَنِ الزُّبَيرِ رض: آَانَ رَسُولِ اللهِ صلعم اِذَا قَعَدَ يَدْعُو
وَوَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ اليُمْنَى وَيَدَهُ اليُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ اليُسْرَى
وَاَشَارَ بِاَصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ اِبْهَامَهُ عَلَى اَصْبُعِهِ الوُسْطَى وَيَلْقَمُ آَفُّهُ
اليُسْرَى رُآْبَتَهُ.
(31) Lihat hadits Abu Humaid Sa’idi tersebut nomor 16 di atas. Dan yang tersebut
dalam shahih Muslim dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah, jika duduk
dalam tasyahhud, meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya dan tangan
kanan di atas lutut kanannya serta menggenggamkannya seperti membuat
isyarat “lima puluh tiga” dengan mengacunkan jari telunjuknya. Dalam
shahih Muslim pula dari Zubair ra. bahwa Rasulullah saw. kalau duduk
berdo’a meletakkan tangan kanannya di atas paha – kanannya dan tangan
kirinya di atas paha kiri, serta mengacungkan jari telunjuknya, dan telapak
tangan kirinya menggenggam lututnya.
– 32 ) لِمَا فِى حَدِيْثِ اَبِى حُمَيدٍ السَّاعِدِىِّ المُتَقَدَّمِ فِى- 16 )
(32) Periksalah hadits Humaid Sa’idi dalam dalil nomor 16 di atas.
33 ) لِمَا رُوِىَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رض قَالَ: آُنَّا اِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ )
رَسُولِ اللهِ صلعم قُلْنَا:”السَّلاَمُ عَلَى جِبْرِيْلَ وَمِيكَائِيلاَ, السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ
وَفُلاَنٍ” فَلْتَفَتْ اِلَيْنَا رَسُولِ اللهِ صلعم فَقَالَ: اِنَّ الله هُوَ السَّلاَمُ فَاِذَا صَلَّى
اَحَدُآُمْ فَلْيَقُلْ “التَّحِيَّاتُ للهوَالصَّلوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ ” الحديث, (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ).
وَلِاِبْنِ خُزَيمَةَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنِ الاَسْوَادِ عَنْ عَبْدِ الله عَلَّمَنِى رَسُولِ اللهِ
صلعم التَّشَهُّدَ فِى وَسَطِ الصَّلاَةِ وَفِى آخِرِهَا. قَالَهُ فِى الفَتْحِ
(الجزء 2ص 200 ) وَفِىالاُمِّ (ج 1ص 102 ) عَنْ آَعْبَينِ عُجْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ
صلعم اَنَّهُ آَانَ يَقُولُ فِى الصَّلاَة: ” اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ
مُحَمَّدٍ, آَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ
اَلِ مُحَمَّدٍ آَمَا بَارَآْتَ عَلَى اِبْرَاهِيمَ وَ اَلِ اِبْرَاهِيمَ. اِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”.وَفِى
الفَتْحِ (ج 2ص 218 ) فَعِنْدَ سَعِيْدِبْنِ مَنْصُورٍ وَاَبِى بَكْرِبْنِ اَبِى شَيْبَةَ بِاِسْنَادٍ
77
صَحِيْحٍ اِلَى اَبِى الاَحْوَاصِ قَالَ: قَالَ عَبْدُ الله: يَتَشَهَّدُ الرَّجُلُ فِى الصَّلاَةِ ثُمَّ
يُصّلِّى عَلَى النَّبِىِّ ثُمَّ يَدْعُو لِنَفْسِهِ بَعْدُ.
(33) Karena hadits dari Abdullah bin Mas’ud ra. bahwa tatkala kita shalat di
belakang Rasulullah saw. kita sama membaca: “Assala-mu ‘ala- Jibri-la wa
Mi-ka-ila Assala-mu ‘ala- fula-n wa fula-n”, maka berpalinglah Rasulullah
saw. kepada kita lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Yang Maha
Selamat, maka apabila salah seorang daripadamu shalat, hendaklah berdo’a:
“At-Tahiyya-tu lilla-h was shalawa-tu wath thayyiba-t”… dan seterusnya
hadits.(Muttafaq ‘Alaih). Dalam kitab Fath (Juz II halaman 200) dari Aswad
dan Abdullah pua dengan riwayat lain oleh Ibnu Khuzaimah, bahwa
Rasulullah saw. telah mengajarkan kepadaku “tasyahhud” dalam
pertengahan dan penghabisan shalat.
34 ) وَفِى الاُمِّ (ج 1ص 102 ) عَنْ آَعْبَينِ عُجْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلعم اَنَّهُ )
آَانَ يَقُولُ فِى الصَّلاَة: ” اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ, آَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ اَلِ مُحَمَّدٍ
آَمَا بَارَآْتَ عَلَى اِبْرَاهِيمَ وَ اَلِ اِبْرَاهِيمَ. اِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”.وَفِى الفَتْحِ
(ج 2ص 218 ) فَعِنْدَ سَعِيْدِبْنِ مَنْصُورٍ وَاَبِى بَكْرِبْنِ اَبِى شَيْبَةَ بِاِسْنَادٍ
صَحِيْحٍ اِلَى اَبِى الاَحْوَاصِ قَالَ: قَالَ عَبْدُ الله: يَتَشَهَّدُ الرَّجُلُ فِى الصَّلاَةِ ثُمَّ
يُصّلِّى عَلَى النَّبِىِّ ثُمَّ يَدْعُو لِنَفْسِهِ بَعْدُ.
(34) Dan dalam kitab Um (Juz I halaman 102) dari Ka’b bin ‘Ujrah, bahwa Nabi
saw. membaca shalawat: “Alla-humma shalli ‘ala- Muhammad wa ‘ala- a-li
Muhammad kama- shallaita ‘ala Ibra-him wa a-li Ibra-him wa ba-rik ‘ala
Muhammad wa ‘ala- a-li Muhammad kama- ba-rakta ‘ala- Ibra-him wa ‘alaa-
li Ibra-him innaka hami-dum maji-d”. Dan dalam kitab Fath (Juz II
halaman 218); maka pada Sa’id bin Mansur dan Abu Bakar bin Abi Syaibah
dengan sanad (rangkaian) shahih sampai kepada Abu Ahwash berkata:
Berkata ‘Abdullah: “Supaya orang itu dalam shalatnya membaca tasyahhud,
lalu membaca shalawat kepada Nabi saw. kemudian berdo’a untuk dirinya
sendiri”.
35 ) لِمَا وَرَدَ فِى نَيلِ الاَوْطَارِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: اِنَّ مُحَمَّدًا صلعم )
قَالَ: اِنَّ مُحَمَّدًا صلعم قَالَ: اِذَا وَقَعَدْتُمْ فِى آُلِّ رَآْعَتَيْنِ فَقُولُوا “التَّحِيَّاتُ للهِ
78
وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَآَاتُهُ. السَّلاَمُ
عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِالله الصَّالِحِينَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسَولَهُ” ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ اَحَدُآُمْ مِنَ الدُّعَاءِ اَعْجَبَهُ اِلَيهِ فَلْيَدْعُ بِهِ رَبُّهُ عَزَّ
وَجَلَّ. (رِوَاهُ اَحْمَدُ وَالنَّسَائِى). وَفِى تَيْسِيرِ الوُصُولِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ
رض قَالَ: آَانَ رَسُولُ الله صلعم اِذَا جَلَسَ فِى رَآْعَتَينِ الاُلَيَينِ آَاَنَّهُ عَلَى
الرَّضْفِ حَتَّ يَقُومَ.
(35) Menilik yang tersebut dalam kitab Nailul Authar, dari Ibnu Mas’ud ra.
katanya, bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: “Bila kamu duduk dalam
tiap-tiap dua raka’at, bacalah: At-Tahiyya-tu lilla-h, washshalawa-tu wath
thayyiba-t, assala-mu’alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatulla-hi wa barakatuh,
assala-mu ‘alaina wa ‘ala ‘iba-dilla-hish sha-lihi-n, Asyhadu alla- ila-ha
illala-h wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu- wa Rasu-luh”, lalu pilihlah
do’a yang disukai dan berdo’alah dengan itu kepada Tuhannya.
(Diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasai). Dan dalam kitab Taisirul Wushul
dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Rasulullah saw. jika duduk dalam dua raka’at
yang pertama seolah-olah ia duduk di atas batu yang panas , hingga segera
berdiri.
36 ) لِمَا وَرَدَ البُخَارِىُّ فِى صَحِيحِهِ عِنْ نَافِعٍ اَنَّ ابْنَ عُمَرَ رض آَانَ اِذَا )
دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ آَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيهِ وَاِذَا رَآَعَ وَرَفَعَ يَدَيهِ وَاِذَا قَالَ: “سَمِعَ الله
لِمَنْ حَمِدَهُ” رَفَعَ يَدَيهِ وَاِذَا قَامَ مِنَ الرَّآَعتَيْنِ رَفَعَ يَدَيهِ. ” رَفَعَ ذَالِكَ ابْنَ
عُمَرَ رض عَنِ النّبِىِّ صلعم وَاِذَا قَامَ فِى الرَّآَعتَيْنِ آَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيهِ لَهُ
( شَوَاهِدُ قَالَهُ فِى الفَتْحِ (الجزء الثّانى منه ص 151
(36) Dalam shahih al-Bukhari dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar kalau shalat bertakbir
serta mengangkat kedua tangannya, kalau ruku’ mengangkat kedua
tangannya, apabila membaca “sami’alla-hu liman hamidah” mengangkat
kedua tangannya dan jika berdiri dari raka’at yang kedua mengangkat kedua
tangannya. (Hadits ini marfu’/ disambungkan oleh Ibnu Umar kepada Nabi
saw.).
Dan dalam riwayat Abu Dawud yang dishahihkan oleh al-Bukhari
perantaraan Muhrib bin Datstsar dari Ibnu Umar juga, bahwa Nabi saw.
79
apabila berdiri dari raka’at yang kedua bertakbir dan mengangkat kedua
tangannya. (Dan hadits ini dikuatkan oleh hadits lain sebagaimana yang
diterangkan dalam kitab Fath Juz II halaman 151)
37 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ )
(37) Lihatlah hadits Abu Hurairah yang tersebut pada nomor 14, dan dalam
shahih Muslim dari Abu Hurairah yang tersebut pada no. 30 dan hadits Abu
Qatadah yang tersebut pada no.11 di atas.
38 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولِ اللهِ صلعم: اِذَا تَشَهَّدَ اَحَدُآُمْ )
فَلْيَسْتَعِذْ بِالله مِنْ اَرْبَعٍ يَقُولُ “اللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوذُبِكَ”. الحديث. (رواه مسلم
فى صحيحه). وَفِيهِ اَيْضًا بِلَفْظِ: اِذَا فَرَغَ اَحَدُآُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ
بِاللهِ مِنْ اَرْبَعٍ. (الحديث)
(38) Dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah
saw. bersabda: “Apabila salah seorang daripadamu bertasyahhud, hendaklah
minta perlindungan kepada allah dari empat perkara, dengan berdo’a: “Allahumma
inni- a’udzu bika …dan seterusnya hadits. Demikian pula dalam
riwayat lain, dengan kalimat: “Kalau selesai bertasyahhud akhir, hendaklah
meminta perlindungan dari empar perkara”… seterusnya hadits.
39 ) لِحَدِيْثِ اَبِى دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِىِّ المُتَقَدَّمِ فِى- 1-وَلِحَدِيثِ سَعْدٍ قَالَ: آُنْتُ )
اَرَى رَسُولِ اللهِ صلعم يُسَلِّمُ عَنِ يَمِينِهِ وَعَنِ يَسَارِهِ حَتَّى اَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ.
(رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى صَحِيحِهِ).
(39) Periksalah dalil yang tersebut nomor 1. Dan hadits dari Sa’d: “Saya melihat
Rasulullah saw. bersalam kea rah kanan dan ke arah kirinya, sampai kulihat
putih pipinya”. (Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya).
40 ) لِحَدِيْثِ اَبِى دَاوُدَ بِاِسْنَادٍ صَحِيْحٍ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ )
النَّبِىِّ صلعم فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ “السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَآَاتُهُ”.
وَعَنْ شِمَالِه ” السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَآَاتُهُ “(قَالَهُ فِى بُلُوغِ
المَرَامِ).
(40) Menurut hadits Abu Dawud dengan sanad shahih dari Wail bin Hujur,
katanya: “Aku shalat bersama–sama Rasulullah saw. maka beliau bersalam
ke kanannya dengan membaca: “Assala-mu ‘alaikum wa rahmatullahi wa
80
baraka-tuh dan bersalam ke kirinya dengan membaca: “Assala-mu ‘alaikum
wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh”. (Tersebut dalam kitab Bulughul Maram)
-41 لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 1-وَ لِحَدِيْثِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ المُتَقَدَّم
(41) Periksalah dalil nomor 38 nomor 1 dan hadis Wail bin Hujur, nomor 40
tersebut di atas.
-42 لِعَدَمِ وُرُودِ الحَدِيثِ فِى ذَالِكَ نَعَمْ قَدْ رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ صلعم اَمْرُهُ
بِضَمِّ المَرْأَةِ بَعْضِهَا اِلَى بَعْضٍ فِى الصَّلاَةِ آَمَا فِى مَخْرَجِ اَبِى دَاوُدَ عَنْ
زَيْدِبْنِ اَبِى حَبِيْبٍ. اِلاَّ اَنَّ هَذَا الحَدِيثَ مُرْسَلٌ. (قَالَهُ فِى سُبُلِ السَّلاَمِ الجُزْءِ
الاَوَّلِ).
(42) Sebab tidak ada hadits tentang hal ini (perbedaan pria dan wanita dalam
bershalat). Benar telah diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau menyuruh
wanita supaya merapatkan setengah anggotanya kepada lainnya dalam
shalat, sebagai hadits Abu Dawud dari Zaid bin Abi Habib, hanya sahaja
hadits ini mursal (sebagaimana yang tersebut dalam kitab Subulus salam juz
pertama)

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: