//
you're reading...
Materi Seminar

Strategi Transformasi Kader Muhammadiyah

(Perspektif Persyarikatan, keumatan dan kebangsaan)¨

Busro Muqaddas

  1. I. Problematika Kader Muhammadiyah

Dalam kurun waktu 25 tahun, wacana tentang kader Muhammadiyah telah menjadi salah satu agenda utama di dalam persyarikatan. Th 1985 merupakan babakan awal merumuskan format kader Muhammadiyah (FKM). Berbagai narsum diundang ke gedung PPM Jogjakarta untuk memberikan catatan kritis atas konsep FKM yang dirumuskan oleh PPM BPK. Letjen Sayidiman Suryohadiprojo (Lemhanas), Nurcholis Madjid (Cendekiawan), Kuntowijoyo (Budayawan), Letjen Sutopo Joewono ( BAKIN), adalah sebagian nama kalangan luar yang diminta memberikan dasar-dasar pemikiran mengenai FKM.

Langkah menelusuri rekam jejak watak, ideology, komitmen, profil dan jejak langkah kader Muhammadiyah yang dilakukan PPM BPK kala itu menghasilkan rekam sejarah menarik. Yaitu bahwa pemikiran ke Islaman sejak KHA Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo (politik), H Fachrudin dan H Suja (social politik), H Zainy (Kristolog dan ahli debat antar Islam Kristen) dst hingga Sudirman (perintis TNI), Mas Mansur (cendekiawan), adalah sebagian tokoh berkaliber berat dalam persyarikatan yang menegaskan, bahwa historisitas pemikiran ke Islam pada tokoh-tokoh diatas telah mengkonstruksikan FKM, yaitu Kader Persyarikatan, umat dan bangsa. Visi keumatan dan kebangsaan diintegrasikan kedalam visi persyarikatan.

Hasil dari catatan kritis para narsum di atas    memberikan justifikasi, bahwa format dan ideology gerakan Muhammadiyah sudah on the track berupa “ Ideologi ( format pemikiran ke Islam) yang merata di kalangan tokohnya bahwa Islam versi Muhammadiyah adalah Islam yang terintegrasi ke dalam problem dan kebutuhan umat dan bangsa”. Secara singkat, Islam dalam sejarah tokoh dan gerakan Muhammadiyah adalah “Islam untuk umat dan bangsa” .

Format ini tidak sama sekali berhenti pada level wacana, melainkan sudah integrated dengan problem umat dan bangsa, disertai  komitmen moral dan pengorbanan serta ethos kejuangan yang cerdas, arif, santun (humble), luwes (familiar) dalam tata pergaulan lintas ormas, agama dan profesi. Kiprah kesejarahan para tokoh di atas mengalami proses kesinambungan yang tertib di dalam kalangan aktivis Muhammadiyah.

Kilas sejarah singkat di atas sekedar untuk menegaskan dan mengingatkan  kepada para pelupa, bahwa persoalan pemikiran bahkan kiprah kesejarahan tokoh aktivis Muhammadiyah sejak awal hingga sekarang telah  clear, walaupun perlu penafsiran kreatif. Bukan barang baru dan asing bagi Muhammadiyah,bahwa wacana dan pengamalan ke Islaman adalah transparan, modern (rasional dalam kearifan), terbuka, toleran secara proporsional dan kontributif bagi umat dan bangsanya.

Sejarah adalah sebuah kekuatan perubahan (power to changes), dan dinamis. Ternyata, dan siapa sangka, proses pengkaderan mengalami sedikit keterputusan “ideologis”. Dalam arti bahwa Islam dalam format yang mensejarah dakam Muhammadiyah diatas, tidak mengalami proses penafsiran formil kelembagaan ketika Ideology Muhammadiyah (MKCH, Mukaddimah dan Khitah Perjuangan) dihadapkan pada perubahan social budaya yang terjadi dengan cepat dengan dampaknya yang besar.

Berbagai kebijakan pemerintah dimulai era Orba hingga sekarang telah menghasilkan keterlanjuran kebijakan yang demikian kompleks , pelik dan rumit. Strategi pembangunan yang lebih berorientasi pada perluasan dan penguatan aspek-aspek fisik materiil ekonomi tidak diletakkan dalam spirit dan komitmen kebangsaan yang substansiil, yaitu Pembukaan UUD 1945 sebagai “sukma bangsa”. Negara (organisasi tertinggi terdiri dari eksekutif, legilslatif dan yudikatif) silih berganti pimpinan dan penguasanya, tetapi berbagai kebijakan politiknya tidak pernah luput dari kesalahan dan penyimpangan fundamental dan semakin menjauh dari amanat konstitusi.

Tujuan berbangsa adalah “mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat”. Antara tujuan dengan dasar-dasar pembangunan nasional sering terjadi gap yang lebar. Terdapat kesalahan tafsir tentang keadilan social, atau, tidak ada tafsir sama sekali yang dijadikan prinsip-dasar kebijakan pembangunan.Hal ini mengakibatkan terjadinya beberapa kesalahan besar dalam merumuskan spirit, esensi kefilsafatan Pembukaan UUD (pembebasan, kemanusiaan dan keadilan) kedalam strategi kebijakan nasional termasuk di dalamnya dalam politik legislasi, yang seharusnya berpihak secara konsisten pada perlindungan rakyat untuk memperoleh keadilan.(lampiran tentang peraturan penanaman modal asing ke Indonesia.)

  1. II. Substansi Permasalahan Bangsa

Secara umum problem ketidakadilan social di bidang ekonomi, hukum, HAM, pendidikan, politik, kesehatan yang dialami rakyat dewasa ini adalah sebagai akibat dari tercerabutnya strategi pembangunan dari spirit dan substansi Pembukaan UUD sebagaimana uraian di atas. Banyak peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah pusat/daerah yang tidak memiliki watak keadilan, bahkan mereduksi keadilan social sebagai tujuan Negara itu sendiri. UU tentang kepolitikan, pendidikan, lembaga Negara yang berfungsi melakukan pengawasan eksternal, peraturan tentang investasi modal asing, adalah sebagai contohnya. Sikap kritis atas hal ini justru lebih sering diajukan judicial reviewnya bukan oleh ormas Islam dan ormas lain, melainkan oleh LSM.

Akibat yang secara langsung dari situasi di atas yang dirasakan rakyat adalah dibidang ekonomi. Situasi ini menjadi factor baru munculnya anggapan umum bahwa problem mendasar rakyat adalah recovery ekonomi. Akar persoalan sebagai  penyebabnya tidak ditelaah secara fundamental. Yaitu krisis kepemimpinan yang memiliki komitmen tinggi untuk memfungsikan dan mengawal  spirit Pembukaan UUD dalam mengelola organisasi Negara untuk mewujudkan keadilan social.

Akibat lanjutannya adalah hampir seluruh elemen bangsa ( pemerintah, parlemen dan CSO,termasuk Muhammadiyah dalam barisan ini) kurang menvokuskan pada program besarnya untuk mempersiapkan pendidikan yang berorientasi pada pengkaderan  kepemimpinan. Yaitu kepemimpinan yang ideologis dan professional berbasis pada akhlaqul karimah dan berilmu amaliah-beramal ilmiah.

Penyemaian format kepemimpinan seperti ini saya yakini sudah cukup menjawab kebutuhan besar bangsa ini untuk membenahi badai besar bangsa berupa demoralisasi yang sistemik dan massif dengan dampak multidimensionalnya. Pertanyaan mendasarnya : Pernahkah Muhammadiyah pada level pusat maupun wilayah melakukan evaluasi kritis dan fundamental tentang dua hal yaitu : (1) Filosofi pendidikan nasional, produk dan problematiknya ?

(2) Strategi Pembangunan Nasional oleh Bappenas dan Pembangunan Daerah ?. Pertanyaan ini diajukan dengan alasan bahwa kepemimpinan visioner akan terbentuk jika pengkaderannya dibekali dengan tradisi riset,survey,analisis, problem solving dan advokasi publik. Dan hal ini tidak sulit bagi Muhammadiyah karena sudah memiliki infra struktur 162 PTM dan watak independensinya yang tinggi serta terbiasa hidup dengan tradisi “memberi dari pada meminta (hadits : yadul ‘ulya khairun min yadus sulfa, giving is better than asking).

III. Format Kader Muhammadiyah ( revisi paradigma pendidikan formal dan pendidikan kader)

Data tentang sebagian kecil jumlah dan kiprah LSM terlampir barangkali berguna untuk sekedar melakukan koreksi internal. Sejumlah LSM ini, mengambil bidang-bidang yang spesifik dijadikan pilihan gerakannya. Dimulai dari pelatihan kader, pelatihan membuat rumusan problem ketidakadilan social politik, hambatan demokrasi dan demokratisasi dalam arti luas serta penguatan nilai-nilai dan norma-norma HAM (sipol dan ekosob). Mereka terlatih untuk melakukan survey yang memasuki wilayah-wilayah sensitive dari sudut politik, investigasi, analisis, dan solusi advokasinya. Tidak sedikit hasil kerja professional mereka berhasil mempengaruhi perubahan-perubahan politik, hukum, penegakan hukum, dan HAM.

Jika dibandingkan dengan Muhammadiyah  yang dikategorikan sebagai NGO Internasional terbesar dengan asset social pendidikan dan  layanan kesehatannya, Muhammadiyah memiliki keunggulan terbatas pada pendidikan pencerdasan bangsa. Ormas lain, telah semakin banyak yang mengambil bidang ini, dengan kualitas yang tidak kalah dengan Muhammadiyah. Agaknya,Muhammadiyah unggul dalam aspek kuantitasnya. Jika status quo dan tidak ada niat sungguh sungguh dengan kebijakan dan program terobosan yang berani, kuantitas pelan-pelan akan tertinggal dengan mereka yang unggul di bidang kualitas. Apakah rutinisme dalam Muhammadiyah sebagai penyebab hal ini ?

Kemampuan menguasai informasi sebagai sarana untuk memperkuat syiar (public relationship), dalam banyak hal khususnya yang menyangkut bidang-bidang ketidakadilan social politik  berikut praktek mafia politik, mafia peradilan, mafia pajak dan mafia migas serta pengelolaan ribuan sumber daya alam serta pelanggaran HAM selama ini lebih sering disuarakan oleh LSM dan sejumlah aktivis dan sejumlah kecil cendekiawan yang masih mampu bertahan dengan integritas dan independensinya.

Jika ada masyarakat mengalami korban kekerasan,  women trafficking, pelanggaran HAM, penggusuran lahan tani, penyiksaan, pemerasan oleh aparat penegak hukum, kecurangan pemilu, pilkada, kecurangan politik, protes atas merebaknya pusat perbelanjaan raksasa di kota besar hingga di tingkat kelurahan, hingga sampai pada soal korban UAN, mereka mencari perlindungan hukum ke LSM-LSM di Jakarta maupun di daerah daerah.

Selain hal di atas, ada yang patut diperhatikan. Mobilitas dan dinamika politik vertical semakin menarik angkatan muda, termasuk akademisi. Begitu cepatnya respons kalangan muda untuk berkiprah di bidang politik praktis jauh lebih menarik dari pada mereka yang hendak berkiprah di ormas-ormas social seperti Muhammadiyah. Apapun motivnya, namun konfigurasi dan arah serta perilaku politik dewasa ini patut dicermati. Apakah konsisten sebagai  articulator rakyat atau sebaliknya (konflik interes personal, keluarga, dan kelompok ?). Dan apakah sejumlah kader Muhammadiyah yang masuk bidang ini larut atau mampu memberikan pencerahan ?

Bagaimana Muhammadiyah membaca trend ini? Sementara pendidikan yang lebih menyiapkan kader dan peserta didiknya untuk memiliki visi kepemimpinan yang ideologis dan professional denga keahlian  di bidang tertentu sesuai dengan kebutuhan pasar dan people empowering nyaris terabaikan.

Jika kecenderungan ini tidak diambil sebagai langkah terobosan dalam Muktamar berikut Musywil dst, apakah kekhawatiran bahwa Muhammadiyah akan kehilangan visi kader persyarikatan, umat dan bangsa akan terbukti dalam waktu dekat ini ?. Dan apalagi, ketika pengaruh dan godaan politik yang difahami lebih sebagai perebutan kekuasaan tanpa niat, visi, kapasitas dan kapabilitas serta rekam jejak yang mendukungnya dilakukan oleh sementara aktivis di dalam/diluar Muhammadiyah dengan menjadikan Muktamar dan perahu Muhammadiyah sebagai ajang dan tangga serta batu loncatan untuk memperoleh pengaruh pemilu di tahun 2014  mendatang tidak diantisipaasi oleh Muhammadiyyien yang otentik, maka bisa jadi seminar seminar pra muktamar ini sekedar sebagai sarana silaturahim saja, tidak berpengaruh pada “penyelamatan Muhammadiyah” melalui Muktamar bulan Juli mendatang.

Direkomendasikan, perlu rancangan keputusan Muktamar  untuk mentajdid kembali rumusan ideology gerakan dan pengakaderan dalam persyarikatan. Penegasan fungsi PTM dan Ortom pada posisi mempersiapkan program yang bersifat diversifikatif dengan mengambil pelajaran keunggulan dari tradisi LSM, selain mempersiapkan pendidikan kader yang lebih menjawab dua kebutuhan  besar bangsa yaitu people empowering dan kelompok professional yang berintegritas.

===========================


¨ Muh Busyro Muqoddas

-Ketua Badan Pendidikan Kader PPM th 1985-1990

-Penasehat Pimp Ranting  Muhammadiyah Nitikan Umbulharjo

Jogjakarta.

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: