//
you're reading...
Materi Seminar

PERUBAHAN IKLIM: DARI MASA KE MASA

Oleh: Halmar Halide

AULA PPLH REGIONAL SUMAPAPUA

MAKASSAR, 15 MARET 2008

  1. Pendahuluan

(setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): ”Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir gandum yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” [QS Yusuf: 46].

Yusuf berkata:”supaya kamu bertanam tujuh tahun lamanya sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur.” [QS Yusuf:47-49].

Orang yang membaca ayat-ayat di atas sejogyanya tidak terkejut lagi dengan adanya isu populer “perubahan iklim”. “Tahun amat sulit” dan “tahun penuh rahmat” pada kisah, tak lain adalah salah satu bentuk manifestasi fenomena perubahan iklim. Dalam konteks ini variasi dari presipitasi (curah hujan) di Asia-Pasifik telah sering kita alami. Kita ambil contoh peristiwa kemarau/banjir berkepanjangan yang ternyata dapat dikaitkan dengan gejala telekoneksi El Niño/La Niña (ENSO). Oleh karena itu, keterkejutan kita saat ini mungkin lebih disebabkan oleh karena sebagian besar manusia ternyata: (i) tidak telaten memperhatikan alam apalagi membuat observasi/pengamatan/ catatan, (ii) tidak mampu membuat ramalan akurat dan skenario mitigasi bencana yang tepat seperti yang dicontohkan oleh Nabi Yusuf a.s. Subhanallaah!

Beberapa hal yang disajikan pada makalah ini diantaranya adalah: rekonstruksi iklim masa lampau, faktor-faktor yang berkontribusi pada peubahan iklim, dan dampak perubahan iklim pada masyarakat (society) yang terekam sejarah.

  1. Catatan iklim proxy untuk merekonstruksi iklim masa lampau

Rekonstruksi suhu udara

Iklim secara umum didefinisikan sebagai keadaan rata-rata dari cuaca (weather) (Le Treut dkk., 2007).  Bagaimana kita merekam perubahan iklim (yang digambarkan via salah satu variabelnya yakni suhu udara pada permukaan bumi) dari waktu ke waktu? Informasi perubahan iklim ini ternyata tersimpan dalam berbagai bentuk rekaman proxy misalnya termometer, tree ring, borehole, dan ice-core yang tersebar di dunia (Gambar 1). Lokasi tersebut disajikan dalam Tabel 1.

Gambar 1. Lokasi penyebaran beberapa catatan proxy iklim pada tahun 1000, 1500 dan 1750. Termometer, tree-ring, borehole, dan ice-core masing-masing dilambangkan dengan termometer berwarna merah, segitiga coklat, lingkaran hitan dan bintang biru (Jansen dkk. 2007).

Tabel 1. Lokasi instrumen perekam suhu di belahan bumi utara (NH – Northern Hemisphere) dan proxy-nya (Jansen dkk. 2007)  .

Hasil pengukuran suhu menggunakan termometer misalnya yang diperoleh HadCRUT2v selanjutnya dibandingkan dengan hasil Proxy pada periode pengukuran yang sama. Hasil perbandingan (kalibrasi) inilah yang digunakan untuk merekonstruksi suhu pada masa sebelum adanya pengukuran termometer. Hasil rekonstruksi suhu udara pada permukaan bumi di masa lampau  ditampakkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Proses rekontruksi suhu masa lampau menggunakan rekaman termometer dan rekaman proxy iklim (Jansen dkk., 2007).

Proses rekonstruksi ini selanjutnya menghasilkan beberapa epoch yang dikenal sebagai: Medieval warm period (900-1300), Little Ice age (1300-1800) dan Recent warming. Hal ini ditunjukkan pada Gambar 3. Tampak bahwa anomali suhu yang dijumpai pada kurun waktu 1000 tahun lalu itu  masih tergolong berskala mikro (± 0.5 oC).

Gambar 3. Hasil normalisasi beberapa model yang merekonstruksi suhu permukaan (Esper dkk., 2005).

Anomali suhu yang berhasil direkonstruksi pada kurun waktu 1000 tahun lalu masih tergolong berskala mikro (± 0.5 oC). Hasil temuan para ahli geologi menyebutkan bahwa  variasi suhu ini ini malah bisa mencapai ± 1.5 oC (skala meso) hingga ± 10 oC (skala makro) (Fookes dan Lee, 2007). Hal ini diperlihatkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Perubahan iklim global pada skala geologis

2.2 Rekonstruksi curah hujan

Selain suhu udara, variabel iklim yang juga penting adalah curah hujan (precipitation). Salah satu cara untuk merekonstruksi curah hujan di masa lalu adalah via studi isotop oksigen yang ditemukan pada stalagmit gua Dongge dan Heshang di Cina. Proses rekonstruksinya ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Proses rekontruksi hujan Muson oleh Hu dkk. (2008). Diagram atas menunjukkan kalibrasi antara curah hujan pada beberapa periode dengan isotop oksigen. Formulasi yang diperoleh dari kalibrasi digunakan untuk merekonstruksi curah hujan hingga 900 tahun silam.

2.3 Rekonstruksi musim kemarau/basah

Kekeringan pun dapat direkonstruksi melalui rekaman iklim proxy menggunakan tree ring. Hal ini dicontohkan pada kasus musim basah dan kering kekeringan di Amerika Utara oleh Cook dkk. (2004) seperti terlihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Rekonstruksi musim basah dan kering di Amerika Utara.

  1. Penyumbang perubahan iklim: faktor alamiah (natural) atau human-made (anthropogenic) via simulasi komputer

Setelah berhasil menrekonstruksi iklim via peubah suhu udara, curah hujan dan daerah kering/basah, para imuwan berusaha menjelaskan penyebab variasi/perubahan iklim tersebut. Hal ini dilakukan melalui studi simulasi suhu udara di belahan bumi utara menggunakan beberapa masukan (forcing). Meraka adalah: letusan vulkanis, penyinaran matahari, dan gas rumah-kaca serta aerosol. Hasilnya ditunjukkan pada Gambar 7.  Tampak bahwa model yang hanya menggunakan forcing alamiah (natural) yang berupa letusan vulkanis dan penyinaran matahari gagal mereproduksi perubahan suhu udara. Perubahan suhu udara hanya dapat disimulasi dengan baik jika faktor manusia (anthropogenic) seperti gas rumah kaca dan aerosol bergabung dengan kedua faktor alami tersebut.

Gambar 7. Simulasi perubahan suhu udara dari velan bumi utara menggunakan  input/forcing alami (natural) dan manusia (anthropogenic).

  1. Perubahan iklim dan dampaknya pada peradaban dan ekosistem

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi ini, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Meraka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka Allah mengazab merka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tiada mempunyai seorang pelindung dari azab Allah. [QS Al Mu’min: 21; dan lihat juga QS Al Mu’min: 82].

Dampak perubahan iklim terhadap peradaban manusia da ekosistem dapat dijumpai dari berbagai sumber. Beberapa diantaranya disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Dampak perubahan iklim terhadap peradaban dan ekosistem (Burroughs, 1997; Harwell, 2000; Zong dan Chen, 2000; Haberle dkk., 2001; Nicholson, 2001; Orlove, 2005; Feynman, 2007)

Peradaban/bangsa/Lokasi Periode Perubahan iklim Dampak
Indonesia dan PNG 4500 tahun silam El Niño Kebakaran besar
Harappa dan Mohenjo-daro di lembah Indus 1800-1500 SM Berkurangnya curah hujan Peradaban runtuh (collapse)
Kerajaan Hittitedi Mediterania timur Akhir abad 13 – awal abad 12 SM Berkurangnya curah hujan Kerajaan runtuh
Byzantium/Konstantinopel Pertengahan abad ke-8 M Suhu rendah (cooling) akibat letusan gunung Rabaul di New Guinea Wabah (plague) bubonic tiap 15 tahun.
Maya di Amerika tengah Awal abad 9 M Kekeringan panjang Peradaban runtuh
Viking di Greenland 1300-an M Suhu rendah Akhir pendudukan Viking
Eropah 1300-an M Suhu rendah Gagal panen, kelaparan meluas hingga  kanibalisme
Eropah Abad 16 M Suhu menurun (Little Ice Age) Gagal panen menyebabkan inflasi Tudor (harga naik 5 kali lipat selama 100 tahun.
Eropah, Kanada hingga Asia 1816 Suhu menurun (Year without summer) Gagal panen dan penyakit.
Lesotho, Afrika 1822-1833 Kekeringan panjang Kelaparan, kanibalisme
USA 1930-an Musim kering (Dust-bowl years) Gagal panen dan migrasi penduduk
Indonesia 1997-1998 Kekeringan akibat El Niño Kebakaran hutan antara 96 ribu – 1,7 juta ha.
Yangtze, Cina 1998 Banjir bandang Kerugian 2 Milyar USD, korban 223 juta orang (meninggal 1320)

  1. Penutup

Perubahan iklim bukanlah suatu fenomena yang baru. Manifestasinya  tampak dalam bentuk: suhu panas/dingin, kemarau/banjir, dan angin kencang/badai. Fenomena tersebut telah dijumpai pada ayat-ayat Allah SWT baik yang tertulis pada kitab-Nya maupun yang terekam pada ciptaan-Nya (rekaman batuan, ice-core, bore-hole, sedimen, pollen, corals). Manusia diharapkan mampu membaca ayat-ayat tersebut untuk membuat analisis/model/prediksi demi kelanjutan hidupnya..

Referensi:

Burroughs, W. J., 1997: Does the weather really matter? Cambridge Uni. Press, Cambridge, 230 pp.

Cook, E. R., C. Woodhouse, D. M. Meko, Stahle, D. W. Stahle, 2004: Long-term aridity changes in the western United States. Science 306, 1015–1018.

Esper, J., R. J.S. Wilson, D. C. Frank, A. Moberg, H. Wanner, J. Luterbacher, 2005: Climate: past ranges and future changes. Quaternary Science Reviews 24, 2164–2166.

Feynman, J., 2007:  Has solar variability caused climate change that affected human culture? Advances in Space Research 40, 1173-1180.

Fookes, P. G., E. M. Lee, 2007: climate variation: a simple geological perspective. Geology Today 23, 66-73.

Haberle, S.G., Hope, G.S., van der Kaars, S., 2001. Biomass burning in Indonesia and Papua New Guinea: natural and human induced fire events in the fossil record. Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology 171, 259–268.

Harwell, E., 2000:  Remote sensibilities: discourses of technology and the making of Indonesia’s natural disaster. Development and Change 31, 307–340.

Hu, C., G. M. Henderson, Huang, J., Xie, S., Sun, Y., Johnson, K. R., 2008: Quantification of Holocene Asian monsoon rainfall from spatially separated cave records. Earth and Planetary Science Letters 266, 221–232.

Jansen, E., J. Overpeck, K.R. Briffa, J.-C. Duplessy, F. Joos, V. Masson-Delmotte, D. Olago, B. Otto-Bliesner, W.R. Peltier, S. Rahmstorf, R. Ramesh, D. Raynaud, D. Rind, O. Solomina, R. Villalba and D. Zhang, 2007: Palaeoclimate. In: Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Solomon, S., D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K.B. Averyt, M. Tignor and H.L. Miller (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA.

Le Treut, H., R. Somerville, U. Cubasch, Y. Ding, C. Mauritzen, A. Mokssit, T. Peterson and M. Prather, 2007: Historical Overview of Climate Change. In: Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Solomon, S., D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K.B. Averyt, M. Tignor and H.L. Miller (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA.

Nicholson, S. E., 2001: A semi-quantitative, regional precipitation data set for studying african climates of the nineteenth century, part i. overview of the data set. Climatic Change 50, 317-353.

Orlove, B., 2005: Human adaptation to climate change: a review of three historical cases and some general perspectives. Environmental Science and Policy 8, 589-600.

Verschuren, D., K. R. Laird, B. F. Cumming, 2000: Rainfall and drought in equatorial east Africa during the past 1100 years. Nature 403, 410–414.

Zong, Y.Q., X. Q. Chen, 2000: The 1998 flood on the Yangtze, China. Natural Hazards 22, 165–184.

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: