//
you're reading...
Artikel

Budaya Siri’ na pacce Itu Sudah Dicampakkan

Budaya siri’ napacce  rupanya tidak dapat dipisahkan dengan orang bugis-Makassar, para orang tua kita dahulu merasa lebih baik kehilangan harta, pangkat atau status lain dari pada siri’nya yang  hilang (nipelakkangi siri’na) bahkan nyawa pun sudah tidak ada lagi harganya ketika sudah menyangkut siri’. Sehingga tidak jarang ada yang meninggalkan kampung halamannya pergi merantau kalau sudah merasa ni pakasiriki (di buat malu), dan terkadang rasio sudah tidak lagi jalan , sehingga terkadang diakhiri dengan adu badik (adu nyawa) dan siapa yang mampu membela keluarga lantaran siri’ napacce ia di anggap pahlawan dalam keluarga dan ia akan dihormati dan dieluk-elukan. Budaya siri’ ini terutama yang menyangkut tentang Wanita, jika ada anak wanita yang diganggu maka pihak keluarga perempuan akan mengambil tingdakan eksekusi terhadap laki-laki itu.  Begitu pula jika ada seorang laki-laki yang melarikan anak prempuan, maka  bagi mereka itu  sudah dianggap tidak ada lagi, alias mati.  Begitu ketaknya dalam menjaga anak perempuan sehingga mereka itu dipingit dalam rumah, keluar rumahpun harus didampingi oleh keluarganya dan ketika keluar rumah tidak diketahui siapa ia karena seluruh tubuhnya dibungkus dengan kain mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.  Untuk dapat melihat seorang wanita terkadang harus panjat kelapa itu baru bisa melongok ke dalam rumahnya.  Itu adalah cerita lama, karena lambat laun sudah mulai pupus sedikit demi sedikit, bahkan sekarang orang bugis-Makassar sudah mulai hilang jati dirinya (siri’ Napacce), Orang bugis Mkassar sudah kendor terutama dalam menjaga anak perempuan,  sekarang ini kalau anak perempuan mau pergi tidak lagi ditanya mau kemana apalagi mau di dampingi, orang tua juga mulai terpengaruh dengan budaya dari luar dan takut dikatakan orang tua terbelakang, ketinggalan jaman, (jumud), sehingga tidak peduli lagi terhadap pergaulan anak-anaknya, mala ada orang tua merasa aneh kepada anaknya ketika anaknya itu tidak memiliki kawan laki-laki yang selalu apel dan datang menjempu dan mengembalikannya.  Sehingga yang terjadi dalam pergaulan biasa kita menemukan ada anak premuan hamil sebelum nikah, kalau dulu pasti anak ini sudah diakhiri hidupnya, tetapi sekarang ini justru tidak mala dicarikan jalan supaya dapat ditutupi rasa malu dengan cara mengawinkannya. Pada hal dalam Agama Mengawinkan orang yang sedang hamil sesungguhnya tidka boleh sampai anak yang dikandungnya itu lahir, tetapi untuk tetap menjaga gensi dan menutupi malu tetap dinikahkan dan anehnya tanpa ada rasa malu mereka juga mepertonotonkan anaknya dengan perut yang sudah mulai buncit di depan para tamunya, dengan cara menpersandingkannya, nau zu min zalik, zaman apa ini ?

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: