//
you're reading...
Artikel

STRATEGI DAKWAH

Dakwah adalah mengajak manusia untuk melakukan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, hal ini merupakan perintah Allah swt, yang harus dikerjakan oleh setiap orang yang beriman, seperti yang dikemukakan dalam Al-qur’an dalam surah Ali-Imran : 104

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.

Pada ayat di atas Allah menghendaki ada satu kelompok ummat yang menyeru kepada yangy Ma’ruf: yaitu segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah;  dan  melarang kemungkaran yaitu segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya. (Allah).

Dalam melakukan dakwah tidak mesti harus  menguasai ilmu Agama Islam  sepenuhnya lalu kemudian baru kita melakukan dakwah, malah Nabi Muhammad pernah memerintahkan kepada ummatnya  untuk melakukan dakwah  yaitu  mengajak manusia kepada Islam sekalipun hanya sepenggal ayat,sebagaimana sabda Rasul dalam hadits “ sampaikanlah dari padaku walaupun hanya satu ayat.

Sasaran dakwah berbeda dalam banyak hal, termasuk latar belakang sosialnya, tingkat ekonominya, pendidikan , sehingga memerlukan strategi yang berbeda dalam menyampaikan dakwah kepada mereka.

Allah berfirman dalam Al-qur’an surah An-nahl :125

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dengan memperhatikan kondisi ummat sebagai obyek dakwah, kecendrungan perkembangannya, permasalahan dakwah yang dihadapi maka perlu dikembangkan strategi dakwah sebagai acuan pelaksanaan kegiatan dakwah persyarikatan khususnya dan ummat Islam pada umumnya.

Strategi umum dalam bidang dakwah terbagi atas 4 bagian yaitu :

  1. Strategi umum

Strategi umum ini dibagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu :

–          Meningkatkan pemahaman dan penghayatan aqidah Islamiyah dikalangan warga persyarikatan dan ummat, sehingga mampu menumbuhkan pemikiran dan perilaku yang islami, dalam hal ini perlu mendahulukan (memprerioritaskan ) pembinaan Aqidah disamping aspek yang lain.

–          Mengembangkan kesadaran dikalangan persyarikatan dan ummat, terutama para pemimpin tentang tiga tantangan utama yang dihadapi dakwah islamiyah, sekularisasi,kristenisasi, nativisasi. Meningkatkan sensitivitas ummat terhadap perjuangan/dakwah, termasuk meningkatkan komitmennya terhadap perjuangan.

–          Meningkatkan dan membiasakan mekanisme prencanaan dan penorganisasian kegiatan dakwah setiap eselon kepemimpinan persyarikatan .

–          Mendudukkan kedudukan kegiatan salibisasi di Indonesia, dalam segala bentuknya, sebagai “masalah serius“ bersama yang perlu dihadapi oleh seluruh kekuatan dakwah dalam “bidang garap bersama“.Dengan cara penyamaan persepsi dan penyusunan prencanaan kegiatan “counter” bersama. Dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan itu perlu digali dan ditingkatkan validitasnya serta dimasyarakatkan.

–          Mengembangkan sistim informasi yang mampu menjangkau warga persyarikatan dan ummat secara luas dan menumbuhkan komunikasi yang efektif. Upaya pengembangan informasi ini terutama dalam rangka “meluruskan“ distorsi informasi tentang islam dan ummat  Islam.

  1. Strategi Kontekstual

Strategi ini meliputi  :

–          Perlunya disegarkan kembali pemahaman warga persyarikatan dan ummat dan  dai  tentang pengertian dan hakekat dakwah , suatu pemahaman yang  secara actual terkait dengan keadaan masyarakat.  Untuk itu diperlukan pergeseran orientasi  dari medan dakawah komvensional yaitu tabligh dalam makna sempit , menjadi dakwah dalam segala aspek kehidupan , meliputi dialog amal, dialog seni , dialog budaya (nilai) dialog  intelektual.

–          Untuk merealisasikan fungsi kerahmatan dakwah, diperlukan pengembangan nilai-nilai agama menjadi konsep-konsep yang operasional dalam masyarakat suatu upaya penyeimbangan pendekatan obyektif dan subyketif terhadap pandangan Islam.

Pemahaman subyekti Islam akan menimbulkan kesadaran tentang makna Islam sebagai pandangan hidup ( Islam sebagai sumber nilai). Sementara pemahaman obyektif berarti menjabarkan nilai-nilai tersebut dalam realitas sosial yang ada ( Islam sebagai konsep), atau dengan ungkapan lain melakukan interprensi ajaran  secara kreatif proporsional dikaitkan dengan kehidupan manusia, alam dan sejarah.

–          Mengembangkan nilai-nilai ruhaniah yang memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam rangka menghadapi ekses moderenisasi, terutama yang menyangkut pergerseran system nilai sebagai akibat pengemabangan sosial budaya.

–          Mendorong ulama, cendekiawan dan budyawan Islam untuk mengembangkan gagasan – gagasan filsafat, ilmiah, dan cultural untuk menjawab tantangan intelektual dunia modern dalam rangka perang intelektual.

  1. Strategi Perencanaan dan Pendekatan

Secara umum perlu dilakukan peninjauan kembali orientasi perencanaan dakwah yang selama ini dilakukan. Kalau semula prencanaan bersifat sentrifugal yaitu metode dan pengolahan pesan ditentukan (menurut selera) dai’ maka perlu dirubah agar beriorientasi sentripetal yaitu mendudukkan :

(a)    Permasalahan dakwah

(b)   Kondisi lingkungan dakwah sebagai hal yang lebih menentukan dalam proses prenacanaan .

Strategi  kebijaksanaan dibidang prencanaan perlu dikembangkan dengan pendekatan pemecahan masalah.  Untuk itu berarti diperlukan informasi yang memadai tentang :

  1. Permasalahan dakwah yang dihadapi
  2. Kondisi obyek beserta setting masyarakat dan linkungannya
  3. Kondisi subyek dakwah ( dai’dan lembaga)
  4. Sarana dan factor lain

Strategi kebijaksanaan dibidang pendekatan (metodologi) dan prencanaan dakwah secara rinci adalah sebagai berikut :

  1. Peninjauan kembali pendektan dakwah dengan upaya sentral yaitu :
  • Prencanaan yang berorientasi pada pemecahan masalah yang didasarkan atas cirri obyek dan lingkungan dakwah dan
  • Pengkoordinasian kegiatan dakwah secara lebih profesioanl
  1. Mengembangkan system pemantauan, pengakjian, analisis dan markas dakwah dalam suatu lembaga khusus (laboratorium dakwah) debagai pembantu pimpinan Persyarikatan , lembaga ini bertugas menyiapkan bank data dan peta dakwah sebagai sarana prencanaan dan memberikan konsultasi pada pelaksanaan dakwah dilapangan.
  2. Mengembangkan upaya-upaya pengadaan informasi dakwah dengan berbagai cara termasuk di dalamnya kegiatan penelitian dakwah (penelitian dalam rangka prencanaan , planning research).
  3. Memanfaatkan secara optimum peraturan  dan hukum fositif serta lembaga yang ada baik pemerintah maupun swasta untuk kepentingan dakwah.
  4. Pengembangn  model-model dakwah khusus (yang menyankut pendektan, metode, pengolahan pesan ) untuk obyek-obyek dakwah tertentu .  Dalam  kaitan ini maka pengembagan media dakwah perlu mendapat penekanan dalam prencanaannya.
  5. Pengembangan model-model atau pendekatan dakwah seni budaya.
  6. Meningkatkan dan mengembangkan kerjasama dengan berbagai lembaga dakwah Islamiyah, baik organisasi formal maupun informal.
  7. Strategi Khusus

Khusus untuk obyek dakwah kalangan dua’fa dan muallaf, diperlukan kegiatan dakwah yang dapat menstimulasi jiwa untuk menimbukan harga diri dan sikap serta prilaku yang mandiri, Bentuk-bentuk penyantunan setidaknya menyakut dua hal, yaitu :

  1. Memberikan kemampuan dasar atau kterampilan agar mampu berkarya secara mandiri (proses babilasi.
  2. Member jalan agar kemampuan/keteranpilan tersebut dapat membuahkan kenyataan dalam menopang kehidupannya misalnya mengembangkan system pemasaran bagi jasa atau barang mereka (proses validasi)

Dengan demikian bentuk-bentuk dakwah untuk golongan ini akan lebih banyak bersifat da`wah bil hal (dialog amal)

Khusus untuk generasi muda disamping penanaman aqidah yang benar perlu diperhatian khusus pada beberapa hal yaitu :

  1. Masalah pergeseran nilai terutama yang menyangkut masalah akhlak (erosi akhlak)
  2. Penyadaran tentang makna dan peran mereka dimasa depan termasuk tanggungjawab keberagamannya (dakwah)
  3. Pengembangan model-model pendekatan dakwah sesuai dengan tingkat kematangan jiwa mereka (bila memungkinkan diadakan  penelitian/uji coba)

Khusus untuk kaum inteletual dan dunia kampus dakwah dikembangkan dengan memberikan perhatian khusus pada :

  1. “Counter dialoque”terhadap nilai sekularisme dan rasionalisme
  2. Penelusuran kecendrungan pandangan dikotomi agama dengan ilmu
  3. Bahan bacaan/kajian
  4. Penyadaran tentang peran dan tanggung jawab mereka terhadap masa depan agama dan dakwah

Khusus untuk kelompok dakwah ‘umara’, pejabat dan kelompok eksekutif perlu dikembangkan kegiatan dakwah dengan perhatian khusus pada :

  1. Pengembangan rasa aman termasuk tuntunan penyantunan spiritual yang islami
  2. Peningkatan kepekaan dan tanggungjawab mereka sebagai muslim.
  3. Peningkatan  komitmen terhadap agama dan tanggungjawab dakwah mereka

Khusus untuk kelompok marjinal dan abangan perlu dikembangkan pendekatan positif konstruktif dengan cara :

  1. Meniadakan jarak psiko-sosial mereka dengan ummat Islam
  2. Meletakkan kelompok masyarakat tersebut sebagai subkultur ummat, dengan demikian perbedaan mereka dengan santri dan bukan santri bukan sesuatu yang antagonistic.  Tuntunan hidup spiritual yang islami perlu dilakukan sebagai tarikan kecondongan mereka pada nativisme.

Khusus untuk mereka yang belum Islam (ummat dakwah) perlu dikembangkan model-model dakwah yang menunjukkan keluhuran ajaran Islam sekaligus sebagai counter terhadap distorsi informasi tentang Islam dan ummatnya yang  mereka  dapatkan.  Tegantung pada dari lapis sosial mana, dakwah dapat berupa dialog amal, dialog budaya, dialog inteletual dan bahkan dialog bisnis.

Pengembangan dan prencanaan yang khsus dakwah untuk  (a) transmigrasi (b) masyarakat suku terasing (c) buruh , tani dan nelayan serta kelompok masyarakat terugikan yang lain sebagai paket-paket khsusus.

Pengembangandakwah keluarga dengan tujuan utama pembinaan keluarga sakinah dalam berbagai aspeknya dan menjadikan tiap keluarga muslim sebagai benteng pertahanan dakwah.

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: