//
you're reading...
Mencari Karunia Allah

I. Bekerja dan Berusaha

Firman Allah swt.  Qs. A-Mulk :15

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan

inilah pokok pandirian dalam ajaran Isiam. Allah telah menyiapkan bumi ini untuk dipergunakan manusia. Sebab itu, sepatutnya manusia mempergunakan nikmat Allah dengan jalan bekerja dan barusaha disegenap penjuru bumi, untuk mencari rezeki yang dinamakan “mancari kumia Allah.”

SETIAP ORANG KUAT MESTI BEKERJA

Tidak boieh  seorang Muslim bersifat malas dan segan dalam berusaha mencari razeki, biarpun dengan alasan manyediakan diri semata-mata untuk beribadat atau tawakkal (berserah diri) kepada Allah. Iangit beium parnah manurunkan hujan emas atau hujan perak. Juga tidak halal manyandarkan diri kepada pemberian orang iain, kaiau ada kakuatan dan kesanggupan berusaha untuk mencukupi kekeperluan diri, anak-isteri dan ,0rang-orang yang menjadi tanggung jawab kita penghidupannya.

Berkenaan dangan menerima pemberian ini, Rasululah Saw bersabda

“ Tidak ada Sedekah untuk orang kaya dan tidak pula untuk orang yang kuat dan cukup tubuhnya.(Diriwayat kan  oleh At-Tirmizi)

DILARANG MEMINTA-MINTA

Di antara parbuatan yang sangat ditantang Oleh Nabi dan dilarang bagi kaum Muslimin untuk melakukannya , ialah minta-minta kepada orang banyak. Dengan minta-minta, seseorang telah menurunkan harga dirinya, martabat dan kehormatannya. Lain halnya kalau dalam keadaan yang sangat memaksa.  Barkenaan dangan perbuatan minta-minta ini, Nabi bersabda:

“Orang yang meminta bukan karana keperluan yang amat mendesak, sama dengan orang yang mengambil (memegang) bara api.” (Diriwayatkan 0leh Bukhari da’ri lbnu AKhuzahnah}.

“Siapa yang meminta kapada orang banyak untuk manambah kekayaannya, itu akan menjadi capuk (aib) di mukanya sampai hari kiamat dan batu panas yang dimakannya didalam neraka jahanam. Sebab itu, terserah kepadanya mau diambilnya sedikit, atau mau diambilnya banyak-banyak.” (Diriwayatkan 0leh Tirmizi)

“Minta-minta itu selalu menjadikan seseorang kamu ketika menemui Tuhannya, tidak mempunyai daging sedikitpun di mukanya (cekung) (Diriwayatkan  oleh Bukhari dan Muslim).

Dengan kécaman-kecaman yang tersebut di atas dan Iain- Iain yang Iebih pahit, Nabi saw hendak memelihara kehormatan dan martabat seorang Muslim, serta mendidiknya supaya mempertahankan diri, untuk bisa berdiri di atas kaki sendiri dan jauh dari menyandarkan hidup kepada orang Iain.

BILAKAH MEMINTA ITU DIBOLEHKAN ?

Walaupun demikian, Rasulullah saw memperhatikan pula dorongan kepentingan, keperluan dan keadaan yang mandesak. Sebab itu, siapa yang terpaksa oleh desakan (keparluan) yang tidak dapat dielakkan, untuk meminta dan mempcroleh bantuan dari pemerintah atau perorangan, maka ketika itu dibolehkan meminta, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi:

“Sesungguhnya meminta itu suatu capuk (kehinaan) yang memburukkan muka seseorang. Maka siapa yang mau, bolehlah ia biarkannya capuk—capuk itu tetap dimukanya dan  siapa yang mau boleh dibuangnya. Kecuali ia meminta  bantuan kepada pamegang kekuasaan atau dalam hal kesulitan yang tidak dapat ia elakkan.” (Dirlwayatkan oleh Abu, Daud dan Nazai)

Diriwayatkan 0Ieh Muslim dari Abu Basyar Kubaisyah AImakhariq ra, katanya; “Saya telah memikul perbelanjaan (untuk mendamaikan suatu pérsengketaan), Ialu saya datang kepada Rasulullah Saw meminta supaya perbelanjaan  itu dibayar (diganti) 0leh beliau. Nabi menjawab: “Tunggulah sebentar, sampai datang orang yang memberikan sedekah, nanti akan kami berikan  kepada engkau untuk pembayarannya,  Kemudian Nabi bersabda: “Hai Kubaishah. Sesungguhnya meminta itu tidak diboleh kan, kacuali dalam salah satu dari tiga hal:

1. seseorang ’  yang mangeluarkan perbelanjaan untuk memperdamaikan persengkataan. Dia boleh meminta secukupnya dan sesudah itu dia mesti berhenti. 2. Orang yang ditimpa bahaya yang mambinasakan hartanya. Dia boleh meminta sampai ada sumber penghidupannya. 3. Orang yang ditimpa kemiskinan, sampai tiga 0rang yang berpikiran juiur diantara kaumnya mengatakan .· “Sesungguhnya Si Anu itu telah ditimpa kamiskinan” maka orang itu boleh meminta sampai dia mamperoleh sumber panghidupannya. Meminta selain dari itu, hai Kubaishah, adalah haram dan orang yang memita itu memakan harta yang haram. ” (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Nisai,

KEMULIAAN DALAM BEKERJA.

Rasulullah Saw menolak penilaian kebanyakan orang yang memandang rendah terhadap kerja dan usaha. Beliau mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya, bahwa kemuliaan dan kehormatan itu terletak dalam kerja apapun. Kehinaan dan kerendahan timbul karena tergantung kepada pertolongan orang Iain. BeIiau bersabda :

“Sesungguhnya seseorang yang mengambil tali dan memikul satu ikat kayu api di punggungnya, lalu dijualnya dan dengan itu Allah memelihara kehormatannya (dari minta-minta) itu lebih baik dari meminta kepada orang banyak, mereka beri atau tidak. ” {Diriwayatkan 0leh Bukhari dan Muslim}.

Seorang Muslim wajib bekerja dan berusaha, misalnya meIakukan partanian, perniagaan, perusahaan, bermacam –macam pertukangan atau bermacam-macam jabatan, asal tidak mangerjakan yang haram atau membantu perbuatan haram atau bertakaitan dengan yang haram.

About nurdinmappa

im teacher from boarding School darul Arqam Gombara Makassar

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: